Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUATAN nasionalisme melalui berbagai kegiatan terhadap anak diyakini bisa mencegah dan menghindarkan generasi muda agar tidak terprovokasi aksi terorisme. Bahkan, rasa nasionalisme yang kuat akan menciptakan sikap dan budaya toleransi yang kuat di kalangan anak-anak.
Hal itu menjadi salah satu bahasan yang serius dalam diskusi perwakilan seluruh anak Indonesia pada pertemuan Forum Anak Nasional (FAN) 2018 di Surabaya, Jawa Timur.
Seperti disampaikan perwakilan anak dari Sorong, Papua Barat, Christin Chatrin Nebore, 15. "Harus ditanamkan rasa nasionalisme di kalangan anak-anak. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya, meningkatkan efektivitas program Bela Negara di sekolah, pelaksanaan upacara bendera, paskibraka, dan menyelenggarakan kegiatan kebudayaan yang melibatkan generasi muda. Itu akan mencegah anak-anak dari provokasi radikalisme serta terorisme dan menguatkan sikap toleransi," kata Christin, Sabtu (21/7) malam.
Dalam diskusi itu, terungkap keprihatinan mereka terhadap aksi-aksi terorisme yang melibatkan anak, seperti terjadi dalam beberapa kali peledakan bom di Jawa Timur. Menurut mereka, anak-anak bisa berperan aktif dalam memerangi radikalisme, terorisme, dan antitoleransi.
"Anak-anak juga bisa mengambil peran aktif dalam memerangi aksi-aksi radikalisme, terorisme, dan antitoleransi. Pertama, lakukan pendekatan dari diri sendiri. Tanamkan rasa nasionalisme, toleransi, dan solidaritas dalam diri. Anak-anak harus bisa menyaring informasi dan jangan terpengaruh provokasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya," papar Christin.
Setelah dari diri sendiri, katanya, langkah selanjutnya ialah dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di sekolah, anak-anak bisa aktif di organisasi sekolah, seperti dewan guru, komite sekolah, serta guru bimbingan dan konseling (BK). Sementara itu, di lingkungan masyarakat, anak-anak bisa bekerja sama dengan lembaga organisasi masyarakat yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. Tentunya hal itu harus mendapat dukungan dari orangtua.
Penanaman rasa nasionalisme yang kuat membuat anak-anak mencintai budayanya. "Saat ini banyak anak Indonesia lebih mencintai budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Untuk itu, sangat penting untuk memperkenalkan dan membudayakan bahasa, tarian, dan lagu-lagu daerah kepada anak-anak," imbuh Christin.
Pernikahan dini dan peundungan
Dalam pertemuan FAN tersebut anak-anak juga membahas isu lain, di antaranya isu pencegahan pernikahan dini dan perundungan terhadap anak.
Seperti diungkapkan Rahmalia Puteri, anak dari Kota Kediri, Jawa Timur. Ia mengakui masih banyak terjadi pernikahan di usia dini. "Menurut kami (ia dan teman-temannya), di Provinsi Jawa Timur masih terjadi pernikahan usia anak. Dalam pertemuan FAN 2018, kami mencoba menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Kami berharap melalui forum ini kami dapat menyusun suara anak Indonesia agar nantinya dapat direalisasikan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya," ujar Rahmalia.
Ia menilai berbagai permasalahan yang dialami anak-anak membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di negeri ini. Oleh karena itu, Rahmalia mengungkapkan harapannya agar Presiden RI, Joko Widodo, dapat menghadiri Puncak Acara Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Ia ingin Presiden dapat mendengarkan secara langsung hasil diskusi mereka yang terkristal dalam sebuah Suara Anak Indonesia 2018 yang akan dibacakan hari ini. (S-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved