Stunting Berisiko Turunkan IQ

MI
23/7/2018 07:15
Stunting Berisiko Turunkan IQ
BJ Habibie bersama perwakilan anak Indonesia minum susu bersama. Anak yang mengalami gizi buruk di bawah 1 tahun, 25% berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah 70, dan 40% berisiko memiliki IQ antara 71-90.()

PENDERITAstunting atau kondisi yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronik umumnya memiliki tingkat kecerdasan atau intellegence quotient (IQ) rendah.Hal itu karena kurang gizi selain berdampak pada penurunan berat badan juga menyebabkan kurangnya asupan energi ke otak.

Mengutip penelitian yang dilakukan selama 40 tahun, Dr dr Damayanti Rusli S, SpA(K) yang merupakan pakar nutrisi dan metabolik mengatakan bahwa anak yang mengalami gizi buruk di bawah satu tahun, 25% berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah 70, dan 40% berisiko memiliki IQ antara 71-90.

Salah satu hal yang bisa dicurigai ialah masalah penurunan berat badan (BB). Anak dengan gizi baik akan mengalami kenaikan BB secara bertahap, sebaliknya BB turun karena asupan energi yang tidak cukup sehingga berpengaruh pada kecerdasan otak.

“Asupan energi itu dipakai untuk perkembangan otak. Jadi kalau gizinya ngga bagus dan BB terus turun, hampir dipastikan tingkat kecerdasan atau IQ-nya juga turun,” ucap Anggota Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.

Menurut dr. Damayanti, stunting menjadi masalah karena meningkatkan risiko kematian. Selain juga dapat menurunkan tingkat kecerdasan menjadi 11%, pendapatan turun 22%, serta memengaruhi perolehan produk domestik bruto (PDB) suatu negara sebesar 16%.

Namun ironis, tidak sedikit masyarakat menganggap stunting sekadar kondisi tinggi badan anak di bawah rata-rata normal.Padahal, kenyataannya, anak yang bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting karena boleh jadi ada pengaruh faktor genetik.

“Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang stunting itu juga semakin memperburuk kondisi balita di Indonesia,” ucap dr. Damayanti.

Infodatin dalam laporan situasi balita pendek menegaskan, jika tidak ada upaya edukasi untuk menekan angka stunting, tren balita pendek diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada 2025. Sebanyak 56% anak pendek hidup di Asia dan 36% di Afrika.

Dengan demikian, menurut dr Damayanti, penting untuk menekan angka kurang gizi dan stunting salah satunya lewat pemenuhan nutrisi sejak dini. Asupan gizi seimbang dalam 1.000 hari pertama kehidupan menjadi kunci untuk menghindari generasi stunting.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Doddy Izwardy mengklaim pemerintah telah berupaya menekan pertumbuhan angka stunting.Di antaranya, mengeluarkan beberapa kebijakan yang secara khusus mengatur tentang upaya mengatasi stunting.

Antara lain, Peraturan Presiden (Perpres) No 2/2015 tentang Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menyebutkan bahwa menurunkan prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek pada anak bawah usia 2 tahun menjadi 28% dengan pelibatan lintas sektor).

Peraturan Pemerintah No 2/2018 tentang SPM bidang Kesehatan Kabupaten/Kota; Perpres No. 1/2017 tentang Germas; dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 43/2016 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan; serta Permenkes No 51/2016 tentang Standarisasi Produk Suplementasi Gizi.

“Berbagai upaya telah dilakukan termasuk menyempurnakan regulasi. Tapi yang paling tidak mudah yaitu membuat masyarakat mengerti dan paham bahwa stunting itu masalah dan berdampak untuk masa depan anak,” ujarnya kepada Media Indonesia, Senin (16/7).
Kendati demikian, pemerintah bersama pihak terkait lainnya gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengetahuan stunting.Harapannya, terbangun kesadaran untuk mencegah terjadinya anak gagal tumbuh alias stunting.

Di samping itu, intervensi gizi sensitif juga dilakukan. Misalnya, pembangunan rastra, ketahanan pangan, pembagunan perumahan, akses air bersih dan sanitasi, serta bantuan jaminan sosial seperti melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Upaya preventif seperti itu yang sebenarnya terus kita galakkan. Tentunya dengan melibatkan sejumlah pihak seperti kementerian sosial, kementerian kesehatan, termasuk juga masyarakat lingkungan sekitar,” pungkas Doddy.

Sepertinya diperlukan terobosan kebijakan baru lintas sektoral untuk menyelesaikan masalah gagal tumbuh pada anak Indonesia demi masa depan mereka dan masa depan bangsa. Tinggal kita menunggu kemauan politik (political will) dari pemerintah.Selamat Hari Anak Nasional 2018. (Mut/S-25)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya