Pemerhati Pendidikan Minta Ahok Bijak Sikapi Aktivis Guru

Syarief Oebaidillah
24/4/2015 00:00
Pemerhati Pendidikan Minta Ahok Bijak Sikapi Aktivis Guru
(MI/RAMDANI)
ULTIMATUM Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama alias Ahok untuk memecat kepala sekolah dan aktivis guru karena dinilai lalai bertugas saat Ujian Nasional (UN) merupakan langkah terburu-buru dan tidak bijak dilakukan seorang kepala pemerintahan daerah.

Hal tersebut dikemukakan pemerhati pendidikan Doni Koesuma dan aktivis LBH Jakarta M Isnur, Jumat (24/4), saat dimintai pendapat terkait pernyataan Ahok yang akan memecat aktivis guru Retno Listiyarti yang juga Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta.

Seperti diberitakan, Ahok telah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budiman untuk memecat Retno Listyarti sebagai Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta. Retno dinilai lalai karena saat UN hari kedua berlangsung, Selasa (14/4), tidak berada di sekolahnya namun berada di SMAN 2 Jakarta di mana Presiden Jokowi didampingi Mendikbud Anies Baswedan dan Gubernur Ahok sedang sidak UN di sekolah tersebut.

Menurut Doni, sebagai guru dan Kepsek unsur PNS, Retno adalah sosok reformator.

"PNS kritis adalah reformator dari dalam, sewaktu menjadi Kepsek SMAN 76 Jakarta Retno berhasil menjadikan sekolah itu sebagai sekolah model antikorupsi di Jakarta. Nah,jangan sampai usaha antikorupsi dan transparansi pendidikan yang dipelopori Ahok gagal.

M Isnur membenarkan Retno selama ini giat membongkar praktik korupsi di Dinas Pendidikan DKI Jakarta. "Ini adalah bagian dari serangan balik atas tindakan kritis dan membongkar korupsi yang selama ini dilakukan Retno,"kata M Isnur.

Doni menyatakan kasus kelalaian Retno ketika UN yang diberitakan tidak sesuai dengan informasi, fakta, bukti dan data yang muncul."Kami dapati tidak seperti yang disebutkan Ahok dan media massa bahwa dia lalai sebagai kepsek ketika UN belangsung,"ungkap Doni.

Isnur menambahkan saat UN hari kedua berlangsung, Retno datang ke sekolahnya di SMAN 3 Jakarta sebelum pukul O6.00 WIB. Artinya, ia memenuhi kewajibannya, dan mengambil soal UN.

Dijelaskan, dia hanya pergi selama satu jam dari pukul 06.30 sampai 07.26.

Isnur memaparkan, awalnya dia diundang wawancara dengan stasiun tv swasta bersama Mendikbud Anies Baswedan di SMA 70 Jakarta, yang dekat dengan SMAN 3. Kemudian Anies memutuskan tidak bisa, dan wartawan tv swasta itu menjemput untuk wawancara di SMAN 2 Jakarta, "Dia tidak tahu akan ada Presiden Jokowi dan Ahok. Ketika wawancara berlangsung belum datang Jokowi, dan dia tidak bertemu Jokowi, berselisih saja.

Dia sudah kembali ke sekolahnya pukul 07.26 sebelum UN dimulai, dan di SMAN 3 Jakarta, dia mengawal UN dan menerima banyak tamu," papar Isnur. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya