Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KARYA seni maestro lukis Indonesia Hendra Gunawan mendapat tempat istimewa di hati Presiden Direktur Ciputra Group Chandra Ciputra. Demikian memuja sang pelukis, Ciputra menginisiasi peringatan 100 tahun sang maestro dalam rangkaian acara pameran seni, diskusi, dan talkshow yang diselenggarakan 5-16 Agustus mendatang di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
“Ekspresinya sama dengan saya. Komposisi warna sama. Perjuangan hidupnya pun sama dengan saya, perjuangan rakyat jelata,” demikian Presiden Direktur Ciputra Group Chandra Ciputra dalam konferensi pers 100 Years Hendra Gunawan-A Centenary di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Kamis(19/7).
Dalam peringatan 100 tahun Hendra Gunawan ini juga digelar pameran kedua yang bertema Spektrum Hendra Gunawan sebagai bentuk respons dunia seni berupa karya dari 70 seniman kontemporer atas karya sang maestro.
Lahir di Bandung, 11 Juni 1918, Hendra Gunawan menjadi nama yang lekat dalam sejarah dan dunia kesenian Indonesia. Ia turut andil dalam perang merebut kemerdekaan. Hendra juga menjalani tahun pahit dalam jeruji besi atas keterkaitannya dengan Lekra-meski sebatas menerima fasilitas kesenian dan di luar haluan politiknya.
Lukisan Hendra Gunawan yang dipamerkan di Museum Ciputra bertemakan Prisoner of Hope. Sebanyak 32 lukisan yang ditampilkan berasal dari koleksi pribadi Ciputra. Dikuratori Agus Dermawan T dan Aminudin TH Siregar.
Penyelenggaraan pameran ini memperlihatkan kedekatan Ciputra dengan sang pelukis. Pak Ci, panggilan akrab Ciputra, berkisah kecintaannya dengan karya Hendra Gunawan bermula pada tahun 1962. Ketika ia melihat karya sang pelukis, jiwanya seakan menyatu dengan lukisan tersebut. Dari situ lah awal mula Ci berniat untuk mengoleksi karya Hendra Gunawan. Perkenalan Ci dengan Hendra Gunawan juga menginspirasi pembukaan Pasar Seni Ancol.
“Saya ingat Hendra terharu, bahkan menangis setelah mengunjungi Pasar Seni Ancol, tempat pelaku seni bisa membuat karya, memasarkan dan bahkan tinggal di situ. Dulu Hendra kesulitan menjual karya-karyanya, bahkan hanya bisa menjadikannnya jaminan ke bank ketika ia membutuhkan biaya perawatan,” kenang Ci lebih lanjut.
Selanjutnya, ia rajin membeli hasil karya Hendra Gunawan. Dirinya juga memenuhi janji untuk membuatkan museum Hendra Gunawan yang terwujud di Ciputra Artpreneur.
Menurut Agus Dermawan, pameran ini adalah pameran terbesar atas karya Hendra Gunawan. Agus yang menulis biografi Hendra, Surga Kemelut Pelukisi, menuturkan pameran kali ini lebih besar daripada pameran yang pernah digelar sang pelukis di Taman Ismail Marzuki atau di Art Center, Bali pada 1982.
“Tema Prisoner of Hope diterjemahkan sebagai spirit melanjutkan kehidupan setelah perjuangan menjadi kebahagiaan. Dalam masa 13 tahun menjadi tahanan politik, Hendra Gunawan tetap mempunyai harapan,” jelas Agus.
Lukisan berjudul Pangeran Diponegoro Terluka ditampilkan menjadi simbol harapan dan sumber inspirasi, selaras dengan konsep Hendra sebagai tawanan pembawa harapan. Agus menambahkan, sebagian lukisan yang dipamerkan belum pernah ditampilkan karena dibuat semasa Hendra menjadi tahanan.
Spektrum Hendra Gunawan yang diselenggarakan secara bersamaan adalah bentuk interpretasi seniman kontemporer atas Hendra dan karya-karyanya. Pameran ini dikuratori Rifky Effendy dan memperlihatkan perspektif dan diskursus atas lukisan Hendra dalam bentuk seni kontemporer.
Beragam media digunakan, antara lain lukisan, patung, keramik, video, seni instalasi, dan fotografi. Seniman yang berpartisipasi dalam Spektrum Hendra Gunawan di antaranya adalah Agung Kurniawan, Butet Kertarejasa, Arkiv Vilmansa, Davy Linggar, Putu Sutawijaya, dan Ugo Untoro.
Sebagai rangkaian acara, selain pameran Ciputra Artpreneur juga menggelar diskusi mengenai perjalanan hidup dan karya Hendra Gunawan bersama Agus Dermawan T. Digelar pula talkshow mengenai kaitan terapi dengan seni bersama Ananda Sukarlan, serta workshop dan pertunjukan tari oleh Gigi Art of Dance. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved