Cegah Stunting dengan Protein

(Ind/H-1)
19/7/2018 03:30
Cegah Stunting dengan Protein
(Thinkstock)

STUNTING atau kekurangan asupan gizi kronik dapat dicegah dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas protein yang dikonsumsi balita. Balita dianjurkan mengonsumsi 1,1 gram protein per kilogram berat badannya. "Protein harus mengandung asam amino esensial yang didapat dari sumber hewani seperti ayam, sapi, ikan, telur, dan susu," kata Dokter Damayanti Rusli Sjarif dari Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 1992, anak yang mendapatkan asupan protein 15% dari total asupan kalori, mempunyai berat badan lebih daripada yang mendapatkan protein 7,5% dari total asupan kalori.

Oleh karena itu, ia meminta para ibu untuk memerhatikan makanan pendamping ASI (MPASI) bagi anak, sebab tren yang ada saat ini MPASI hanya berupa pure dari buah dan sayuran. Sementara itu, balita membutuhkan protein, karbohidrat, dan lemak, yakni zat gizi yang sangat berperan bagi pertumbuhan.

"Yang dibutuhkan anak untuk tumbuh ialah asam amino esensial yang didapat dari protein hewani," terang Damayanti.

Badan Kesehatan Dunia atau WHO, imbuhnya, mengajurkan pemberian MPASI setelah bayi enam bulan. Sebab, komponen yang ada dalam ASI sudah tidak mencukupi lagi untuk kebutuhan nutrisi anak.

"Ketika bayi berumur enam bulan, harus diberi makan, karena energinya tidak cukup. Bahkan zat besinya tidak ada. Yang kurang dari ASI ditambah dengan MPASI," ucapnya.

Ia juga mengingatkan para ibu tidak hanya memberikan MPASI pabrikan, tetapi harus dipastikan adanya protein hewani, lemak, dan sebagainya. "Tidak harus makanan mahal. Indonesia kaya akan ikan yang mengandung banyak asam amino esensial yang dibutuhkan anak," tuturnya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) RI 2013, angka stunting di Indonesia mencapai 37,2%. Padahal, WHO menginginkan angka tersebut berada di bawah 20%. Menurut Damayanti, hampir semua daerah prevalensi stunting-nya tinggi, termasuk DKI Jakarta yang hampir mencapai 30%.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya