PBB Dorong Investasi Berkelanjutan Atasi Malaria

Antara
21/4/2015 00:00
PBB Dorong Investasi Berkelanjutan Atasi Malaria
(AP/Anupam Nath)

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, meski telah terdapat berbagai kemajuan, namun masih diperlukan berbagai investasi berkelanjutan guna mengatasi penyakit malaria yang masih ada di berbagai belahan dunia.

"Bersama-sama, kita telah mencapai sebuah kemajuan yang besar dalam upaya kita untuk memerangi penyakit yang dapat dicegah dan diobati ini (malaria)," kata Presiden Majelis Umum PBB Sam Kutesa dalam rilis PBB menjelang Hari Malaria Se-dunia setiap pada 25 April mendatang, yang diterima di Jakarta, Selasa (21/4)

Menurut Sam Kutesa, masih diperlukan investasi yang lebih besar dan koordinasi yang lebih kuat guna membantu masyarakat internasional membuat terobosan yang signifikan dalam perang melawan malaria secara global.

Dengan kata lain, ujar dia, diperlukan investasi yang berkelanjutan untuk mengendalikan malaria dan mengeliminasinya pasca-2015. "Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai dunia yang bebas dari malaria," katanya.

Ia juga mengatakan, guna mencapai tujuan tersebut, harus terus dilakukan investasi yang disertai komitmen politik yang berkelanjutan guna mengendalikan malaria dan mengeliminasinya.

Berdasarkan data PBB, 64 dari 97 negara kini berada di jalur untuk memenuhi spesifik Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang bertujuan untuk membalikkan tragedi malaria pada 2015.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jan Eliasson mengatakan, generasi baru sekarang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi kepada masyarakat atas pekerjaan mereka dalam menangani malaria. "Melawan malaria memang merupakan salah satu investasi kesehatan masyarakat yang paling hemat biaya waktu kita. Kita tidak boleh menghentikan investasinya," ucapnya.

Di Indonesia, ditemukan penurunan jumlah kasus malaria di beragam daerah, seperti jumlah kasus malaria di Kepulauan Bangka Belitung menurun pada awal 2015 dibandingkan 2014.

"Saat ini, kasus malaria hanya satu kasus per 100 penduduk, sedangkan tahun lalu mencapai lima kasus per mil," kata Kepala Dinas Kesehatan Babel Mulyono Susanto di Pangkalpinang, Senin (20/4).

Sedangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua mengumumkan bahwa jumlah kasus malaria di wilayah itu mengalami penurunan drastis dalam dua tahun terakhir setelah beroperasinya Pusat Pengendalian Malaria.

Sekretaris Dinkes Mimika Saiful Taqin kepada Antara di Timika, Rabu (15/4), mengatakan penurunan angka penyakit malaria di Mimika diukur dari beberapa indikator, seperti slide parasit index (SPR) dan anual parasit index (API).

"Diukur dari SPR, jika ada 100 slide yang dianalisis maka yang positif malaria di bawah 35%, dulunya di atas 45%. Demikian pula API data orang sakit akibat gigitan nyamuk malaria per 1.000 orang penduduk mengalami penurunan. Dulu di atas 400 orang, sekarang di bawah 100 orang," jelas Saiful. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya