MARTHA Tilaar Group menyelenggarakan Festival Jamu Gendong 2015. Acara
itu sebagai bentuk penghargaan untuk para penggiat jamu yang telah
berkontribusi meningkatkan kesehatan masyarakat dengan harga terjangkau.
Pada Festival Jamu Gendong 2015 yang bertepatan dengan ulang tahun
Taman Mini Indonesia Indah tersebut, diadakan lomba pembuatan jamu yang
diikuti sekitar 150 pedagang jamu dari Jakarta.
Lomba tersebut
dilakukan setelah dilakukan pelatihan oleh para praktisi jamu dari
Martha Tilaar Group. "Para peserta festival ini adalah mereka yang telah
sebelumnya kita ajarkan mulai pemilihan bahan hingga takaran campuran
untuk jamu. Nah di sini kami lihat apakah mereka sudah benar dalam
penyajiannya," tutur Vice Chairwoman Martha Tilaar Group Wulan Tilaar
di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, kemarin.
Ia mengemukakan para penggiat jamu yang telah berkontribusi meningkatkan kesehatan masyarakat dengan harga terjangkau. "Para
penjual ini harus memerhatikan standar hygiene dan sanitasi dalam
pembuatan jamu. Di sinilah peran kami untuk berbagi pengetahuan sebagai
pelaku industri memberikan pembinaan kepada mereka bagaimana membuat
jamu yang berkualitas," ujar Wulan Tilaar .
Pada kesempatan sama,
Director of Martha Tilaar Innovation Centre Bernard T Widjaja
mengatakan tata laksana diberikan kepada para penggiat jamu mulai dari
mempersiapkan bahan, proses pengolahan, hingga pemasaran. "Kami ingin
mengangkat mereka supaya bisa memberdayakan diri untuk kesejahteraan
keluarga mereka," jelasnya. Martha Tilaar Group juga sedang
menggencarkan mengangkat kembali jamu sebagai warisan budaya yang
empiris. "Ini yang kita harapkan agar masyarakat jamu gendong lebih bisa
merasakan keberadaan jamu yang lebih bermanfaat," ujar Bernard. Bernard
menyampaikan Martha yakin jika jamu gendong ini dibuat menjadi suatu
industri maka akan bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Community
Development PT Martina Berto Martha Tilaar Group Heru Wardana
menyatakan pihaknya bersama Kementerian Kesehatan telah meninjau
penggiat jamu di Serang, Nganjuk, Bogor, Jambi, dan Kendari. Tinjauan
ini bertujuan untuk memberikan pembinaan pengolahan jamu yang benar.
"Ternyata, yang kita temukan, terutama di daerah Kendari banyak pelaku
jamu gendong yang mencampurkan jamu herbal dengan menthol dengan alasan
permintaan konsumen. Padahal ini sangat dilarang. Pembinaan mengetahui
campuran apa saja yang boleh dan tidak inilah yang kami berikan kepada
masyarakat jamu gendong," ujar Heru. (H-1)