Konferensi Asia Afrika (KAA) menjelma menjadi jembatan kemitraan yang saling menguntungkan antara negara-negara Asia dan Afrika sehingga kesenjangan ekonomi dapat dikendalikan.
PENDAPATAN domestik bruto yang dimiliki negara-negara Asia dan Afrika hampir sama nilainya pada 1950-an. Kondisi itu kini berbeda signifikan. Direktur Jenderal Asia Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin menyatakan, Jepang yang dulu terpuruk akibat perang dunia ke-2 telah bangkit dan berada dalam kelompok negara-negara maju (G-8). Begitu pula dengan Republik Rakyat Tiongkok yang kini pertumbuhan ekonominya telah menyalip Amerika Serikat (AS). Perbaikan ekonomi di kawasan Asia juga ditunjukkan oleh India yang dinilai sebagai new emerging country.
Penilaian yang sama juga diterima oleh Indonesia sebagai salah satu inisiator Konferensi Asia Afrika. Negeri yang berada di antara dua benua dan dua samudra ini sekarang menjelma sebagai kekuatan ekonomi baru yang patut diperhitungkan di kancah ekonomi dunia. Itu terbukti dengan masuknya Indonesia sebagai anggota kelompok G-20.
Dari kawasan Afrika, pertumbuhan ekonomi yang signifikan diwakili oleh Afrika Selatan. Kemerdekaan dari sistem apartheid menciptakan peluang untuk bisa setara dengan negara-negara lain di dunia. Data Bank Dunia menyebutkan pendapatan domestik bruto Afrika Selatan pada 2013 mencapai US$366,1 miliar. Capaian itu mendudukkan negara tersebut sebagai negara berpendapatan tinggi.
Sayangnya, kesempatan yang sama belum dirasakan negara-negara tetangganya. Sudan, misalnya, masih saja masuk dalam kategori negara miskin. Ethiopia bahkan dikategorikan Amerika Serikat sebagai negara gagal akibat ketidakmampuan pemerintah yang berkuasa mengatasi berbagai persoalan dalam negerinya. Meski begitu, harapan akan perkembangan ekonomi Afrika tetap harus dipupuk.
''Ibu Menlu bilang kalau Asia is engine of global growth, tetapi Africa is continent of hope. Ini artinya Afrika itu masih memiliki harapan karena mereka kaya sumber daya alam. Kita harus mampu memanfaatkan kesempatan ini. Selama ini, baru Tiongkok dan Jepang saja yang sudah memanfaatkannya,'' terang Yuri.
Upaya kesetaraan
Kesadaran atas kondisi saling membutuhkan antara Asia dan Afrika itu mendorong terciptanya Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (New Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP) dalam Peringatan 50 Tahun KAA pada 2005 lalu. Dikutip dari laman http://www.aacc2015.id, deklarasi NAASP yang secara resmi ditandatangani oleh Indonesia dan Afrika Selatan sebagai tuan rumah bersama KTT itu berfungsi sebagai cetak biru bagi kolaborasi kedua benua dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Dua isu itu merupakan masalah utama baik bagi Asia maupun Afrika.
Mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan, keberhasilan pengentasan kedua masalah tersebut utamanya terletak pada penerapan tata kelola pemerintahan (good governance) yang baik. Faktor itu yang menyebabkan perbedaan nyata atas pembangunan yang dilaksanakan antara negara-negara di Asia dan Afrika.
Faktor kedua terletak pada kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi terbukti mampu menunjukkan kontribusinya terhadap kemajuan sebuah negara. Contoh nyatanya adalah Jepang. Karena itu, agar Afrika lebih maju dan makmur, mereka memerlukan dukungan transfer ilmu pengetahuan hingga peningkatan kapasitas.
''Kemitraan yang dijalin harus saling menguntungkan karena kita memerlukan Afrika yang lebih kuat dan makmur. Dengan begitu, mereka bagus menjadi pasar dan bisa menjadi mitra strategis untuk mengangkat isu bersama,'' papar Yuri.
Hasil konkret
Dalam Peringatan KAA ke-60 dan peringatan NAASP ke-10, Indonesia kembali menjadi tuan rumah serangkaian acara tingkat tinggi yang bertema Penguatan Kerja sama Selatan-Selatan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia di Jakarta dan Bandung pada 19--24 April 2015. Selain pertemuan antarpetinggi negara, diselenggarakan pula Asia-Africa Business Summit pada 21--22 April di Jakarta sebagai acara pendamping.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Freddy H Tulung menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan forum para pelaku usaha Asia dan Afrika untuk mengoptimalisasi kerja sama, meningkatkan daya saing dan upaya promosi dan penjajakan peluang investasi.Forum tersebut rencananya akan diikuti oleh 41 negara dan menghadiri beragam forum diskusi. Forum tersebut diharapkan mampu membuahkan hasil konkret baik bagi pengusaha asal Afrika maupun Indonesia.
''Kami sedang menyusun dokumen akhir yang akan memuat elemen-elemen pengembangan kerja sama meliputi perbankan, UKM, perikanan, kelapa sawit, pembukaan rute penerbangan, pertambangan, energi, agrobisnis, dan kapal kontainer untuk mengangkat komoditas ekspor,'' tukasnya beberapa waktu lalu.(Din/S-25)