PENELITI dari Balai Bahasa Jawa Timur, Yani Paryono menilai teknik Kartu Mimpi sangat efektif untuk mendidik siswa agar mudah menulis karya sastra, khususnya cerpen dan puisi. "Sudah banyak yang mempraktikkan teknik ini dan ternyata hasilnya sangat bagus, baik untuk siswa maupun mahasiswa," katanya di Surabaya, hari ini. Teknik Kartu Mimpi diperkenalkan oleh Dr Sutejo, dosen STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur, yang mengajak siswa atau mahasiswa mengingat mimpi paling berkesan kemudian dimasukkan ke dalam kartu mimpi. Kartu mimpi yang harus diisi adalah tentang waktu terjadinya mimpi, tokokh-tokoh yang muncul dalam mimpi, tempat (setting) terjadinya peristiwa dalam mimpi, peristiwa dan konflik yang terjadi, hubungan antartokoh dan klimaks.
Lewat data yang telah dimasukkan ke dalam kartu berdasarkan mimpi yang dialami itu, siswa atau mahasiswa kemudian mengembangkannya sesuai dengan unsur-unnsur dalam cerpen atau puisi. Siswa atau mahasiswa bisa menambahkan data pendukung atau penguatan cerita atau puisi sesuai imajinasinya. "Saya juga menerapkan teknik ini untuk anak SMA. Saya ajak siswa untuk meluangkan waktu 15 hingga 20 menit untuk mengingat mimpi yang paling berkesan, kemudian ditulis di kartu mimpi. Setelah itu dikembangkan sesuai imajiasi mereka," kata Yani. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa teknik unik itu ia praktikkan juga saat mengajar apresiasi sastra di Universitas PGRI Adibuwana (Unipa) Surabaya yang sangat membantu bagi mahasiswa menghasilkan cerpen atau puisi. Ia mengemukakan bahwa teknik itu kemudian juga dikembangkan oleh sejumlah mahasiswa di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo untuk kepentingan skripsi. (H-1)