Bahas Kerja Sama Budaya, 100 Negara Kumpul di Sanur Bali
Arnold Dhae
16/4/2015 00:00
(afs.org)
LEBIH dari 100 peserta dari negara-negara Asia dan Pasifik menggelar pertemuan kerja sama budaya global di Sanur, Bali, Kamis (16/4).
Pertemuan tersebut bertajuk The First Asia Pasific Regional Intercultural Education: From Ideas to Action. Acara ini dilaksanakan oleh AFS Asia Pacific Initiative (AAI), Society for Intercultural Education, Training and Research (SIETAR) Indonesia dan Yayasan Bina Antarbudaya. Konferensi ini akan menghadirkan narasumber dari enam negara, di antaranya Indonesia, Tiongkok, India, Jepang, Malaysia dan Singapura. Konferensi ini juga dihadiri para pengambil kebijakan kunci di masing-masing negara, peneliti, praktisi, dosen, guru, akademisi, mahasiswa dan berbagai profesi lainnya.
Anggota Dewan Penasihat Dirjen Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI DR Irid Agoes menjelaskan, pertemuan kali akan lebih banyak mengeksplorasi pandangan-pandangan regional dalam pendidikan antarbudaya, menyajikan ide-ide yang berkembang, mendefinisikan tantangan-tantangan yang kompleks dan mengidentifikasi solusi untuk memperluas pendidikan antarbudaya secara global.
"Salah satu yang mau dihasilkan dari konferensi ini adalah bagaimana meningkatkan strategi pemahaman antarbudaya antarbangsa di kawasan Asia Pasifik melalui sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga non formal lainnya. Hal ini bertujuan agar membantu generasi muda di kawasan regional untuk memiliki sensifitas terhadap pemahanan antarabudaya dan siap berkontribusi dalam meningkatkan keterhubungan global antarwarga bangsa," ujarnya.
Hal ini sangat penting karena beragam konflik yang pecah di dalam negeri salah satu penyebabnya adalah ketidakfahaman terhadap budaya. "Kita banyak perang karena tidak mengerti tentang diri kita sendiri," kata Irid.
Di Amerika, program budaya ini sudah masuk kurikulum hingga program doktoral (S3). Sementara di Indonesia, program antarbudaya belum masuk dalam kurikulum. Kalaupun dipelajari, ia melanjutkan, hal itu hanya sebatas kulit luar.
"Penting sekali dari kecil menghargai orang lain. Di Indonesia pelajaran antarbudaya ini masih kulitnya," kata dia.
Menurut dia, pentingnya pemahaman antarbudaya menjadi penting agar masyarakat Indonesia tak mudah tersulut yang menyebabkan pertikaian berkepanjangan. Rata-rata konflik horizontal yang pecah di masyarakat, Irid mengimbuhkan, disulut dari pemahaman dangkal budaya.
"Mudah sekali tersulut masyarakat kita, akibat dangkalnya pemahaman budaya," papar dia.
Irid sangat berharap pemahaman antarbudaya dapat dimasukkan dalam kurikulum sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. "Kita berharap adanya kurikulum yang mengusung itu. Kita berharap hal ini didengar oleh para pemimpin, para pengambil kebijakan. Kita berharap ada tindak lanjut," harap Irid. (Q-1)