Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAJAR Sekolah Dasar (SD) Indonesia mengukir prestasi pada kompetisi matematika internasional. Sebanyak 12 siswa SD yang mewakili Indonesia membawa pulang 10 medali terdiri atas medali emas, dua perak, dan enam perunggu pada ajang Bulgaria International Mathematics Competition (BIMC) 2018 yang berlangsung 30 Juni-6 Juli di Bulgaria.
"Dengan prestasi pada kompetisi matematika internasional ini sejatinya para pelajar kita sudah membuktikan mampu bersaing di kancah internasional," kata Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorar Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Khamim, saat menyambut kedatangan delegasi BIMC di Bandara Soekarno Hatta, Banten, Sabtu (7/7) malam.
Melalui keterangan yang diterima Minggu (8/7), menyebutkan untuk kategori tim atau kelompok, delegasi pelajar Indonesia berhasil meraih satu medali emas (juara), dua perak, dan dua perunggu.
Sedangkan untuk kategori individu, Indonesia memperoleh satu medali emas atas nama Felicia Grace Angelyn Ferdianto dari SD Cahaya Nur, Kudus, Jawa Tengah.
Satu medali perak atas nama Yedija Nicholas Kurniawidi dari SD Karangturi, Semarang, Jawa Tengah. Adapun empat medali perunggu diraih oleh Ahmad Fikri Azhari (SD Muhammadiyah Plus, Batam, Kepulauan Riau), Mafazi Ikhwan Dhandi Hibatullah (SDS Al Furqon, Jember, Jawa Timur), Matthew Allan (SDS Kristen 10 Penabur, Jakarta), dan Ryan Suwandi (SDS Tzu Chi, Jakarta).
Sedangkan lima orang siswa lainnya mendapatkan penghargaan merit (harapan) dalam kompetisi yang diikuti 28 negara tersebut.
Khamim menjelaskan delegasi BIMC merupakan perwakilan siswa berprestasi yang merupakan juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017. Mereka diberi pembekalan delegasi dalam dua tahapan; pada Mei dan Juni.
Ibnu Hadi, 37, dosen Universitas Negeri Jakarta yang menjadi pendamping delegasi BIMC, mengemukakan perlunya pembinaan yang berkelanjutan. Dikatakan, kualitas siswa Indonesia yang berkompetisi di ajang internasional tidak kalah dengan siswa di negara-negara maju lainnya.
"Tantangan bagi guru untuk bisa memancing potensi siswa yang selama ini terpendam," ungkap Ibnu.
Penerapan kurikulum 2013 dan pembiasaan mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi dirasa sudah tepat dan perlu dijaga konsistensinya.
"Yang penting kita kontinyu membina dan terus dievaluasi. Kita harus mencari pembanding di negara lain, kalau bisa sama, atau bahkan bisa lebih. Kuncinya memang pada guru," jelas Ibnu.
Dengan lebih dari 148 ribu sekolah dan lebih dari 25,5 juta siswa SD, Kemendikbud berkomitmen untuk terus melakukan pemerataan kualitas pendidikan.
Khamim menambahkan, pembinaan dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan bagi para siswa berprestasi. Para juara yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional ini akan diberikan Beasiswa Bakat Prestasi.
"Juara OSN 2018 nanti akan diikutsertakan pada kompetisi internasional di 2019. Ini sebenarnya pembinaan berkelanjutan dan memberikan apresiasi kepada siswa kita," tandas Khamim.
Peraih medali emas individu, Felicia, 12, mengungkapkan, kegembiraan sekaligus keterkejutannya meraih emas di ajang bergengsi tersebut. Meski BIMC bukanlah kompetisi internasional pertamanya, siswi yang juga gemar melukis dan membaca komik ini tidak mengira ia akan mendapatkan medali emas.
Ibunda Felicia, Lisa Triana, mengutarakan putrinya memang menggemari matematika sejak kecil. Bakat dan minat Felicia ditemukan sejak Taman Kanak-Kanak saat memenangi lomba di tingkat kabupaten. Pembinaan dan pengembangan diri anaknya disesuaikan dengan keinginan si buah hati.
"Dia cita-citanya ingin menjadi guru. Saya fasilitasi saja. Yang penting jika nanti menjadi guru mengajarnya dengan hati," tukas Lisa. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved