Perspektif Taoisme, Hidup dan Mati merupakan Satu Kesatuan

Syarief Oebaidillah
05/7/2018 20:50
Perspektif Taoisme, Hidup dan Mati merupakan Satu Kesatuan
(Ist)

REKTOR Universitas Moestopo (Beragama) Prof Dr Rudy Harjanto mencatat sejarah sebagai sosok guru besar yang produktif. Ia berhasil mempertahankan disertasinya yang keempat pada sidang terbuka di hadapan Dewan Penguji pada Rabu (4/7) di Kampus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Melalui rilis yang diterima, Kamis (5/7), menyebutkan, disertasi berjudul 'Makna Kematian dalam Perspektif Taoisme dan Relevansinya bagi Nilai-Nilai Perilaku Manusia' bertujuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan kembali landasan filosofi pemikiran tentang makna kematian, untuk kemudian dianalisis kemungkinan relevansinya dalam upaya menemukan alternatif solusi konseptual bagi nilai nilai perilaku manusia.

"Kematian adalah bagian dari aktivitas alam semesta sehingga terbentuk keharmonisan dan keseimbangan yang sejalan dengan filsafat Tao. Keharmonisan dan keseimbangan ini berbeda berdasarkan keyakinan masing-masing," kata Rudi Harjanto melalui keterangannya itu.

Dia mengutarakan, terdapat beberapa orang atau kelompok yang melakukan hal-hal yang mereka yakini benar, meskipun dalam pandangan keyakinan yang lain justru penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Mereka melakukan pembunuhan terhadap diri mereka sendiri, lalu pada saat yang sama melalukan pembunuhan kepada orang lain yang justru tidak dikenal maupun bermusuhan dengan mereka. Oleh sebab itu, diteliti apa makna kematian manusia dalam perspektif Taoisme dan relevansinya bagi nilai-nilai perilaku manusia.

Rudy memaparkan bahwa makna kematian dalam perspektif Taoisme ialah proses untuk menuju kehidupan dalam dimensi lain. Hidup dan mati merupakan satu kesatuan, tidak dapat dipisahkan. Manusia menjalani siklus dari alam kembali ke alam. Hubungan dasar kematian ialah proses penyatuan kembali tubuh fisik manusia ke alam.

Alam memfasilitasi seseorang untuk dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain tertentu sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu. Perbuatan yang didasari oleh energi positif akan memberikan dampak kebaikan, dan menimbulkan nilai-nilai perilaku yang penuh kebaikan.

Sebaliknya, perbuatan di masa kehidupan yang didasari oleh energi negatif, setelah kematian, tubuh yang menyatu dengan alam akan mengalirkan energi negatif dan memberikan dampak yang negatif yang menimbulkan nilai-nilai perilaku negatif manusia.

Paradigma penelitian yang digunakan pada disertasinya adalah fenomenologi hermeneutik untuk melakukan kajian pustaka, rekonstruksi makna, deskripsi latar belakang, dan melaporkan peristiwa-peristiwa khusus.

Paradigma yang digunakan memungkinkan para peneliti untuk mengembangkan tinjauan literatur dan kemudian diperkuat oleh rekonstruksi bahan yang dikumpulkan dengan penyelesaian interpretasi berdasarkan pola berpikir induktif. Data berupa studi pustaka dan uraian verbal ditangkap maknanya, diseleksi, dan disarikan dalam bentuk uraian atau laporan yang rinci, diolah dan diklasifikasikan ke dalam sub-sub tema dan menyusunnya ke dalam bentuk konsep yang runtut dan utuh.

Adapun pengolahan data dalam penelitian menggunakan mengunakan metode analisis dan interpretasi. Dalam penelitiannya ini, Rudy  melakukan penelitian di Jakarta, pada pertengahan 2017 sampai awal 2018.

Rudy, Guru Besar yang kerap tampil antik berambut ikat kuncir ini, sebelumnya telah membuat tiga disertasi yakni bidang ekonomi berjudul Persepsi Harga, bidang komunikasi berjudul 'Word of Mouth', dan tentang seni berjudul 'Karya Seni Partisipatoris'. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya