Operasi DBS Perpanjang Kualitas Hidup Penderita Parkinson
Fetry Wuryasti
12/4/2015 00:00
(Parkinson umumnya diderita kaum lanjut usia--(Dok/Thinkstock))
PARKINSON menjadi penyakit yang sampai hari ini belum ditemukan obat penyembuhnya. Terapi obat yang biasa dianjurkan kepada pasien hanya mampu menekan gejala parkinson.
"Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang menyerang karena faktor usia, di mana bersifat progresif, yang menyerang otak dan mempengaruhi gerak tubuh karena berkurangnya zat dopamin," ujar Spesialis Bedah Saraf Rumah Sakit Siloam Made Agus Mahendra Inggas.
Zat dopamin bertugas mengirimkan sinyal dari satu sel saraf ke saraf lain atau otot. Jumlah dopamin, kata Made, pasti akan berkurang seiring bertambahnya usia.
"Pada kasus parkinson, dopamin berkurang hingga 80%. Berakibat terganggunya fungsi otak mengenali sinyal pesan kepada gerak tubuh," kata dia saat acara Peringatan Hari Parkinson Sedunia di Rumah Sakit Siloam Lippo Karawaci, Tangerang.
Penyakit parkinson disebabkan oleh matinya sel substansia nigra di otak tengah yang berfungsi sebagai penghasil dopamin. Gejalanya antara lain melambatnya seluruh gerakan motorik, kekakuan pada tubuh, tremor, dan ketidakseimbangan postur tubuh.
Gejala ini, diutarakan Made, memburuk secara bertahap dari waktu ke waktu. Pengobatan yang tepat dapat memperlambat terjadinya gejala yang lebih buruk selama beberapa tahun.
"Selama ini mayoritas pasien parkinson melakukan terapi obat agar bisa beraktivitas normal. Obat tidak untuk menyembuhkan, hanya menekan perburukan gejala. Biasanya setelah konsumsi 5 tahun, pengaruhnya berkurang dan timbul berbagai efek samping," jelasnya.
Alternatif pengobatan jangka panjang pada parkinson bisa dengan melakukan tindakan operasi terapi stimulasi otak dalam atau Deep Brain Stimulation (DBS). Tingkat keberhasilan operasi Deep Brain Stimulation hingga 100% dengan pengaruh mengembalikan produktivitas pasien 70-100%.
"DBS bertujuan memperbaiki gejala, bukan untuk menghilangkan penyakit, dan penyebabnya. Pasien bisa beraktivitas normal untuk 15-20 tahun mendatang. Umumnya parkinson menyerang pasien berusia di atas 60 tahun, kalau 20 tahun bisa bebas gejala, akan cukup sekali untuk kualitas hidupnya," katanya.
Dijelaskan, ada beberapa faktor yang harus dilihat sebelum menyatakan pasien harus menjalani operasi stimulasi otak dalam ini. Faktor tersebut antara lain dari konsumsi obat dan dari klinis pasien.
"Pertama, bila konsumsi obat sudah banyak, atau dosisnya tinggi namun tidak berpengaruh. Kedua, secara klinis, kalau setelah konsumsi obat menjadi terdapat efek samping, seperti gerak berlebih pada bagian tubuhnya, rasa terbakar di tenggorokkan, pusing, diare, gangguan ginjal dan liver," terangnya.
Lebih lanjut Made menerangkan operasi DBS diawali dengan CT-scan kepada pasien, kemudian dalam kondisi bius lokal dan sadar, di sisi kanan kiri bagian atas kepala pasien dilakukan pengirisan kecil 1-1,5 cm untuk kemudian dimasukkan jarum dengan chip.
Kemudian monitoring dilakukan dengan alat pacu/setrum untuk melihat seberapa besar kebutuhan stimulasi untuk otak sambil diuji apakah tremor masih diderita pasien. "Bisa 0,3 Ampere, 0,5 Ampere dan seterusnya," papar Made.
Setelah menemukan tingkatan ampere yang pas, dilakukan bius umum pada pasien untuk pemasangan baterai di dada kanan sebagai sebagai pemacu chip di otak. "Pengaturannya bisa dilakukan dari luar dengan bluetooth," imbuh Dr Made.
Baterai di dalam dada bisa bertahan 5-6 tahun. Pendampingan obat terkadang tetap dibutuhkan, meski dosisnya jauh lebih kecil hingga tidak perlu dikonsumsi. Fungsinya mengasup dopamin yang tidak bisa dihasilkan oleh alat pacu. "Alat pacu hanya bisa merangsang supaya sel-sel di dalam tubuh menghasilkan dopamin," tukas Made.
Tanpa operasi, kata Made, pasien harus mengkonsumsi obat terus menerus dengan dosis yang meningkat. "Parkinson itu bukan penyakit infeksi. Kalau infeksi, dikasih obat, kuman hilang, sembuh. Tapi parkinson akan terus menyerang, harus terus menerus minum obat," ujarnya.
Namun memang terapi DBS masih tergolong mahal dan Siloam salah satu rumah sakit yang memiliki alatnya.
Perlu Dukungan Keluarga
Pada kesempatan sama, Spesialis Saraf Rocksy Fransisca mengatakan di kalangan awam, pengetahuan akan parkinson belum terlalu umum. Begitu pula di kalangan pasien.
"Begitu di diagnosa parkinson, mereka kaget. Terkadang mereka juga tidak mengerti apa itu parkinson. Akhirnya masih banyak pasien yang berharap kesembuhan instan, masih banyak yang mencoba segala macam alternatif," ujarnya.
Rocksy mengatakan tidak ada penyakit yang benar-benar mirip seperti parkinson. Namun melihat dari tubuh yang kaku, orang sering berpikir pasien parkinson tersebut terkena stroke.
"Jadi memang kadang-kadang tubuh menjadi kaku. Tapi sebetulnya pada pasien parkinson tidak ada kelemahan otot. Otot kuat sebetulnya, namun tidak dapat bergerak dengan baik," jelasnya.
Bila telah terserang parkinson, kata Rocksy, seumur hidup penyakit tersebut akan dibawa. Bahkan terkadang pada pasien usia lanjut, gangguan memori juga terjadi. "Dia tidak bisa mengingat. Oleh karena itu keluarga pasien harus paham juga mengenai pengobatannya, gejalanya. Sehingga mereka bisa mendukung menstimulasi gerakan pasien," ujarnya.
Dukungan keluarga bisa membangkitkan zat dopamin pasien parkinson melalui hal-hal yang membuat pasien senang. "Apakah itu melalui terapi musik, humor, lelucon, itu bisa membangkitkan dopamin walaupun tidak langsung menjadi normal kembali. Namun pada episode tertentu kegiatan tersebut bisa membangkitkan dopamin," ulasnya. (Q-1)