SEBANYAK 90% bahan baku industri farmasi di Indonesia masih mengimpor dari luar negeri. Kondisi itu dipicu masih kurang memadainya teknologi yang memproduksi bahan baku farmasi. ''Dengan kesempatan Indonesia kembali menjadi tuan rumah Convention on Pharmaceutical Ingredients Southeast Asia (CPhl SEA) 2015, kita punya momentum untuk mendorong bahan baku farmasi dari Indonesia,'' ungkap Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang yang mewakili Menkes Nila F Moeloek ketika membuka pameran niaga industri farmasi di JI Expo, Jakata, kemarin.
Ia menjelaskan untuk mendorong bahan baku industri farmasi tersebut, industri harus melihat apakah sumber bahan bakunya ada di Indonesia, dan teknologinya seperti apa. ''Apakah kita punya teknologinya baik sendiri atau kerja sama dengan aliansi farmasi di luar negeri, dan juga harus kita lihat apakah secara ekonomi visible,'' ujar Maura.
Itu sebabnya, kata dia, bangsa Indonesia harus mulai dari sekarang membangun industri bahan baku. ''Dengan begitu, hasilnya baru bisa kita lihat 3-5 tahun. Sudah ada pihak swasta dan BUMN yang sedang memulainya,'' tambah Maura. Pada kesempatan sama, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Johannes Setijono menambahkan 90% impor bahan baku yang dilakukan Indonesia berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, India, Korea, Taiwan, Jepang, dan Amerika Selatan.
''Tidak ada negara mana pun yang bahan baku farmasinya berasal dari produksi sendiri,'' ujar dia. Namun, jelas dia, pihaknya telah bekerja sama dengan Kemenkes membuat roadmap untuk industri farmasi. Salah satu roadmap itu antara lain harus dilakukan formulasi. ''Kami sedang mulai produksi sendiri, baik yang biological, natural dan chemichal. Namun memang perlu waktu yang cukup panjang,'' ungkap Johannes. (Try/H-2)