Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya bangga atas prestasi dunia, dua film pendek promosi pariwisata produksi Kementerian Pariwisata RI, di Bulgaria, Jumat malam lalu. Bagaimana tidak? Keduanya memenangi penghargaan untuk kategori history and culture (berjudul Wonderful Indonesia: History and Culture), dan kategori sport and advanture (dengan titel Wonderful Indonesia: Diving), dalam International Tourism Film Festival (ITFF) di Bulgaria ke-11 yang bertajuk "On the East Coast of Europe".
"Branding pegang peranan penting dalam promosi. Film Wonderful Indonesia itu merupakan implementasi dari strategi branding kita. Namun, promosi dalam bentuk branding saja tidak cukup, harus diikuti dengan advertising calendar of event untuk destinasi tertentu. Lalu promosi selling yang secara spesifik menjual jasa transportasi, hotel dan restoran pada even tersebut," jelas Manpar Arief Yahya.
Menurut Arief Yahya, media promosi harus menggunakan "convergent media", gabungan antara paid media, owned media, dan social media. Paid media bisa berupa TV, cetak, sedang owned media berupa website destinasi. Selanjutnya secara massif bisa menggunakan social media, sehingga exposure terhadap film Wonderful Indonesia yang keren ini pasti akan seru. "Itulah yang saya sebut dengan metoda promosi 3I: intensif, inovatif, dan interaktif," kata mantan Dirut PT Telkom Indonesia itu.
Penghargaan itu diumumkan saat penutupan festival, Jumat malam di Cathedral Rozhdeshtvo Bogorodichno Hall, Kota Veliko Tornovo. Menurut Sekretaris Kedua Penerangan, Sosial, dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia Sofia Dina Martina kepada Antara London, Sabtu, 4 April 2015, penghargaan itu diserahkan oleh ketua tim juri Dr Marin Damianov dan juri Antoni Ivanov Tsonev kepada Duta Besar Indonesia Bunyan Saptomo.
Dr Marin sangat terkesan dengan film History and Culture yang menggambarkan keragaman budaya dan agama di Indonesia. Antoni Tsonev juga terkesima dengan nirwana bawah permukaan laut yang ada di berbagai dive site di Indonesia. Keanekaragaman biota, coral, terumbu karang, berbagai species ikan berwarna-warni, hidup dan berkembang aman di Indonesia.
"Kita memang memiliki dive site yang berbeda-beda, dan semuanya punya karakter yang hebat, dari ujung Pulau We, Belitung, Lampung, Karimunjawa, Derawan, Bunaken, Lembeh, Bali, Lombok, Labuan Bajo, Halmahera, Ambon, Wakatobi, sampai Raja Ampat. Jangan ngaku seorang diver, jika belum menjelajan bawah laut Indonesia dari ujung Timur sampai ke Barat," jelas Arief Yahya.
Festival itu sendiri berlangsung selama tiga dan diikuti 90 film dari 23 negara. Yaitu Bulgaria, Serbia, Brasil, Portugal, Maroko, Thailand, Siprus, Macedonia, Swiss, Kroasia, India, Indonesia, Mesir, Yunani, Polandia, Peru, Kepulauan Faroe (dekat Denmark), Republik Cek, Austria, Malta, Prancis, Finlandia, dan Jerman.
Ada lima kategori yang dipertandingkan dalam festival film pariwisata ini, diantaranya Nature and Ecotourism, History and Culture, Sport and Adventure, Faith and Traditions, dan Corporate Tourism Film/Spot. Dari lima kategori tersebut, hanya kategori Faith & Traditions yang tidak diikuti Indonesia.
Reputasi perfilman Indonesia cukup terangkat bersama promosi pariwisatanya. Kali ini prestasi Indonesia cukup membanggakan. Keempat film Kementerian Pariwisata yang diikutsertakan pada festival--termasuk film dengan judul Feeling is Believing (kategori Corporate Tourism Film/Spot) dan Nature & Ecotourism (kategori Nature & Ecotourism)--sebelumnya, semuanya masuk nominasi pemenang penghargaan.
Tahun 2015 ini adalah tahun kedua bagi Kementerian Pariwisata Indonesia berpartisipasi pada ITFF. Tahun lalu, Kementerian Pariwisata hanya mengirim satu film dan sempat masuk daftar nominasi.
International Tourism Film Festival (ITFF) of Bulgaria merupakan satu-satunya festival film bergengsi dengan tema pariwisata di Bulgaria yang diadakan setiap tahun di Kota Veliko Tornovo. ITFF diselenggarakan Pemerintah Kota Veliko Tornovo bekerja sama dengan perusahaan Consulting & Communication Agency serta Asosiasi Tour Operators dan Travel Agents Bulgaria.