PARA pejabat dari tiga negara, yaitu Indonesia, Thailand, dan Myanmar, mendatangi pulau-pulau terpencil di kawasan timur Indonesia untuk menyelidiki bagaimana ribuan nelayan asing diperlakukan dengan kejam dan dipaksa menangkap seafood yang disebut-sebut dipasok ke berbabagai wilayah seperti Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara lain.
Sepekan setelah the Associated Press (AP) menerbitkan kisah perbudakan di industri panganan laut, termasuk video yang menunjukkan pria terkunci dalam kerangkeng, delegasi dari Thailand dan Indonesia mengunjungi desa di Pulau Benjina, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Selain itu, tim dari pemerintah Myanmar juga akan terbang ke Benjina pekan depan untuk mendata jumlah warga negara itu yang terjebak di sana untuk dipulangkan.
Investigasi yang dilakukan pemerintah ketiga negara itu mencerminkan betapa suramnya masalah perbudakan di kawasan Asia Tenggara untuk bisa dihapus. Para pekerja migran kerap terpikat akan iming-iming gaji besar atau bahkan diculik menjadi nelayan, biasanya dari Myanmar, salah satu negara termiskin di dunia, bersama dengan Kamboja, Laos, dan wilayah miskin di Thailand.
Para nelayan yang disekap itu dibawa dari Thailand ke kapal nelayan di Indonesia, di mana banyak yang mengatakan mereka dipukuli dan dipaksa bekerja berjam-jam dengan sedikit atau tanpa dibayar. Hasil tangkapan mereka kemudian dikirim kembali ke Thailand sebelum masuk ke pasar global. Kisah itu terangkum dalam dokumentasi yang dirilis AP.
"Saya tahu berbicara kepada Anda adalah berbahaya, hidup kami terancam, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk keluar dari sini," ungkap seorang korban perbudakan kepada AP, yang namanya dirahasiakan untuk alasan keselamatan. "Saya hanya ingin pulang untuk melihat orang tua saya sebelum mereka meninggal," imbuhnya.
Ratusan nelayan telah diselamatkan, Jumat (3/4), dari pulau terpencil Indonesia itu. Pejabat Tanah Air menyelidik pelanggaran ketenagakerjaan kepada pekerja migran tersebut. Delegasi Indonesia mulai mewawancarai mereka dan hasil dari penilaian akan diungkap pekan ini.
Sekitar selusin kapal nelayan terpantau berlabuh di pantai, sementara yang lain terpantau cukup jauh dari lokasi tim delegasi. Ketika AP mencoba untuk mewawancarai pekerja Burma pada satu kapal, penjaga keamanan di Pusaka Benjina Resources, perusahaan yang menjalankan operasi penangkapan ikan, tiba-tibak berlari untuk menghentikan pria agar tidak berbicara.
Manajer setempat, Herman Martino, beralasan pria itu tidak diizinkan untuk berbicara kepada pers ketika berada di kapal pukat. Martino mengatakan ada sekitar 1.000 nelayan di Benjina. Pada awalnya, ia mengatakan semua mereka adalah warga Thailand. Namun ketika ditekan, dia mengakui bahwa mereka mengantongi dokumen resmi sebagai warga Thailand serta Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam. (AP/Hym/OL-3)