WAKIL Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengingatkan agar masyarakat lebih mengutamakan tindakan pencegahan ketimbang tindakan pengobatan. Karena itu, penting sekali masyarakat untuk menjaga kebersihan di lingkungan terdekat. ''Sering saya ke kota orang membanggakan rumah sakitnya. Justru, saya memberikan angka merah kalau RS (rumah sakit)-nya penuh, itu artinya lingkungannya jelek. Yang baik itu kalau tidak penuh, baik kota itu,'' ungkap Kalla dalam Puncak Peringatan Hari Tuberkolosis (TB) Sedunia Tahun 2015, di Istana Wapres, Jakart, kemarin.
Kalla mengungkapkan ada anggapan salah yang selama ini berkembang di masyarakat. Seakan-akan masalah kesehatan selesai jika memiliki RS bagus padahal RS hanyalah ujung pelayanan kesehatan. ''Yang justru penting itu bagaimana (menjaga) kebersihan selokan, air, lingkungan hidup di rumah tangga. Pencegahan bukan hanya obat, tetapi semua harus preventif, termasuk pula dalam mencegah penyakit TB,'' tutur dia. Menurut Kalla, masyarakat mesti berperan lebih aktif, terutama para tokoh masyarakat serta pemerintah daerah untuk menyosialisasikannya.
"Jadi apabila kita berbicara stop TB, berarti memperbaiki kebiasaan, lingkungan, baru kita bicara makan obat, bukan makan obat duluan, itu bagian dari yang harus kita perbaiki,'' pungkas Kalla. TB ialah penyakit biasanya menyerang paru-paru dan juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebar butiran ludah mereka melalui udara.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek berharap, pemerintah pusat dan daerah bisa mengendalikan TB untuk menyukseskan program Indonesia bebas TB pada 2050. Ini seiring dengan meningkatnya angka kesembuhan penderita TB. ''Perlu kami sampaikan pengendalian TB 2015 ini mencakup pemanfaatan teknologi mutakhir. Sebab munculnya TB kebal obat jadi masalah kami akibat prilaku penderita TB yang tidak taat,'' tutur dia. Nila berharap, puncak peringatan Hari TB Sedunia bisa mengetuk pintu hati para kader peduli kesehatan untuk kemudian ditindaklanjuti di 34 provinsi. ''Kegiatan ini untuk menyebarkan informasi tentang TB, agar masyarakat mengetahui dan bisa mengobati dengan benar,'' tukas Menkes. (Wib/H-2)