Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MELALUI momen Hari Raya Idul Fitri umat Islam diajak untuk hidup bertoleransi dan berani menegakkan keadilan. Umat juga diingatkan agar tidak hanya pintar dalam beragama, tetapi juga cerdas. Esensi ajaran Islam adalah keadilan yang dapat dilakukan siapa saja.
Demikian isi khotbah salat Idul Fitri 1439 Hijriah yang di sampaikan secara terpisah oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Didin Saefuddin Buchori, Abdullah Gymnastiar, dan Ketua Mahkamah Konstitusi 2013-2015 Dr H Hamdan Zoelva.
Menurut Didin yang berkhotbah di Lapangan Astrid, Kebun Raya Bogor, Islam adalah ajaran yang memberi rahmat kepada semesta alam. Masyarakat semestinya hidup dalam toleransi.
"Islam adalah ajaran yang rahmatan lil alamin. Alquran mendorong untuk hidup di tengah masyarakat secara tenteram, damai, santun, dan toleran di tengah kemajemukan. Islam adalah seluruh rahmat bagi alam semesta. Islam mengutuk keras segala bentuk kekerasan dan kekejaman (terorisme), seperti bom bunuh diri di Surabaya, Mako Brimob, dan lainnya," ujar Didin.
Hadir pada salat Id tersebut, Presiden Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, dan keluarga, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Idrus Marham, Menag Lukman Hakim Saifuddin, serta Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto, dan Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal Besar Harto.
Harus cerdas
Terpisah, Aa Gym, panggilan akrab Abdullah Gymnastiar menjelaskan soal perbedaan konotasi kata pintar dan cerdas. Dalam ceramahnya yang bertema Meraih kemenangan pribadi menuju kemenangan umat, di Masjid Istiqlal Jakarta, Aa gym mengatakan, pintar beragama berarti hanya memahami konteks dari ilmu yang dipelajari.
"Tetapi kalau cerdas beragama artinya mampu mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sosial maupun spiritual. Mengapa orang yang paham agama, tapi tidak sesuai dengan ilmu yang dipahaminya? Karena dia hanya sibuk belajar untuk kepintaran akal," jelas pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid itu.
Orang pintar, lanjut Aa Gym, tidak sibuk bermujahadah untuk membersihkan hati. Mereka hanya bisa mengingat, tetapi orang cerdas bisa berbuat. Sementara itu, Hamdan Zoelva mengatakan, mestinya umat Islam lebih berani menegakkan keadilan. "Puasa Ramadan sebulan penuh agar umat Islam lebih bertakwa, dengan menegakkan keadilan," ujar Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam itu, saat salat Idul Fitri 1439 H di Masjid Nursiah Daud Paloh, Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta Barat.
Menurut Hamdan, cara menegakkan keadilan dengan selalu berkata, memberitakan, memberikan keterangan, dan kesaksian yang benar dalam suatu perkara. Keadilan tidak bisa ditegakkan bila mengabaikan kebenaran. Pun juga mengabaikan kebenaran sama dengan mengorbankan keadilan. Di tempat yang sama, CEO Media Group, Surya Paloh, berpesan agar umat Islam mengambil hikmah dari momentum Idul Fitri 1439 H untuk kembali ke fitrah setelah 30 hari berpuasa.
"Sebagai manusia, memang tidak ada yang sempurna. Sebab itu, mari kita semua untuk belajar kembali lebih meningkatkan solidaritas toleransi kerja sama, juga hubungan dengan yang mahapencipta. Kita tidak ada artinya apa-apa tanpa ada rida-Nya," kata Surya. (Sat/Tos/X-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved