KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menggelontorkan dana sebesar Rp600 miliar pada tahun ini untuk memperbaiki puluhan puskesmas yang rusak berat. Lewat perbaikan itu, diharapkan jumlah antrean pasien program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat berkurang lantaran pengobatan sudah cukup dilakukan di level sarana kesehatan primer, seperti puskesmas.
''Anggaran itu untuk perbaikian puskesmas dengan kondisi kerusakan paling parah,'' ujar Direktur Jendral Bina Upaya Kesehatan Kemenkes Akmal Taher, pada acara Rapat Kerja Kesehatan Nasional Regional Timur, di Hotel Clarion Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin.
Berdasarkan catatan Kemenkes, saat ini terdapat sekitar 9.731 puskesmas di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 243 puskesmas mengalami kerusakan tingkat berat, 639 sedang dan 2.098 rusak ringan. Artinya pada saat ini hanya sekitar 6.751 puskesmas yang berada dalam kondisi baik.
Lantaran jumlah anggarannya terbatas, dengan jumlah alokasi dana perbaikan yang ada, Akmal mengatakan untuk tahun ini hanya dapat diperbaiki sekitar 87 puskesmas. Dia berharap ada peran serta pemerintah daerah (pemda) untuk ikut membantu memperbaiki puskesmas yang rusak.
''Kalau kerusakannya berat, dana perbaikan diambil dari pusat. Tapi kalau yang ringan masak pemda tidak bisa?''
Pada kesempatan serupa, Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes Usman Sumantri menambahkan, selain perbaikan, jumlah puskesmas juga akan terus diperkuat dengan penambahan tenaga SDM.
Menurut dia, bila mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas, disebutkan bahwa idealnya puskesmas memiliki tenaga dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga kesehatan masyarakat, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian.
Sayangnya, dari semua puskesmas, baru 30% yang sudah lengkap. Oleh karena itu, pada 2015, Kemenkes menargetkan akan melengkapi tenaga kesehatan di 120 puskesmas di 48 kabupaten/kota.
''Penguatan puskesmas di bidang SDM akan diutamakan pada daerah perbatasan dan terpencil. Strategi pembangunan kesehatan kita dimulai dari pinggir ke tengah,'' tutur dia. (H-1)