Cara Lain Ajarkan Toleransi kepada Anak

Suryani Wandari Putri Pertiwi
10/6/2018 08:10
Cara Lain Ajarkan Toleransi kepada Anak
Lebih dari 50 anak dan remaja berkumpul bermain bersama pada acara Festival Literasi keindonesiaan di Wihara Prasadha Jinarakkhita, Jakarta, kemarin. Acara lintas budaya tersebut dihadiri perwakilan dari muslim, buddhis, Nasrani, dan Ahmadiyah yang bertuju(MI/PIUS ERLANGGA)

MENGAJARKAN seseorang mengenai perbedaan dan keberagaman sebaiknya dilakukan dalam usia dini dan pengajaran tidak melulu dengan cara di depan kelas yang monoton.

Hal itu dilakukan Generasi Literat dengan menggelar Festival Literasi Keindonesiaan di Pusat Pendidikan Agama Buddha Prasadha Jinarakkhita, Puri Kembangan, Jakarta Barat, kemarin.

Generasi Literat merupakan sebuah gerakan yang meyakini bahwa pendekatan literasi selain dapat mencerdaskan secara kognitif dan ampuh, menghidupkan nilai-nilai pribadi yang luhur, juga menjadi terapi yang menyenangkan dan menyehatkan.

Bersama komunitas Jelajah Buku dan Rumah Dongeng, mereka mengenalkan keberagaman dengan gerakan literasi lebih luas kepada lebih dari 50 anak dan remaja dari lintas iman, lintas usia, dan lintas instansi.

"Terdapat beberapa latar belakang agama, di antaranya Nasrani, Ahmadiyah, Buddha, dan muslim. Targetnya mereka saling membaur, saling mengenal dan saling menyayangi teman meskipun berbeda agama," kata Milastri Muzakar, pendiri sekaligus relawan Generasi Literat.

Acara yang digelar di rumah ibadah agama Buddha ini pun bukan tanpa alasan. Menurut Mila, demikian panggilan akrab Milastri, hal itu bisa menjadi sarana belajar memahami budaya lain. Mereka berkunjung ke Balai Kenangan Ashin Jinarakkhita, sebuah museum Mahabiksu Ashin Jinarakkhita.

Bertajuk bertemu, saling mengenal, memahami, lalu mensyukuri indahnya keberagaman, anak -anak itu belajar mengenai keberagaman bukan hanya dari tulisan, melainkan dikemas dengan cara menarik dan menyenangkan.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk persatuan Indonesia dan melantunkan ayat Alquran, mereka pun melakukan permainan.

Permainan yang dilakukan disukai semua orang, anak-anak, remaja dan dewasa ini dipercaya pula dapat menyatukan semua orang karena tak memiliki batas budaya, agama, gender, atau perbedaan lainnya.

Permainan itu berupa kartu Pancasila dan ular tangga Nusantara yang dikemas dengan kuis dan diskusi mengenai keberagaman dan toleransi. "Kami tidak mau seperti menggurui. Yang penting diakhir kegaitan meraka dapat mengambil pengertian sendiri mengenai toleransi dan keberagaman," lanjut Mila.

Rutin digelar

Pertama kali digelar dengan antusias yang luar biasa bagus, Generasi Literat berencana mengadakan kegiatan serupa rutin setiap bulannya dengan mengunjungi berbagai tempat untuk memahami ragam agama dan budaya.

"kami terbuka menerima siapa pun datang ke sini. Acaranya bagus, mereka belajar memahami tanpa diarahkan menjadi radikal, mereka bisa berbaur tanpa jarak," kata Rosmery, Direktur Yayasan Prasadha Jinarakkhita.

Hal yang sama diungkapkan Aldo, peserta dari Yayasan Kasih Mandiri. Ia mengaku senang bermain dengan teman baru. "Awalnya memang ada jarak, tapi akhirnya kami bermain bersama. Aku berharap dapat ikut lagi pada kegiatan selanjutnya," kata Aldo.

Acara itu pun ditutup dengan penulisan kesan dan pesan damai serta berbuka puasa bersama. (J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya