Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AROMA dupa menyeruak ke udara begitu langkah kaki memasuki pintu Wihara Dharma Bhakti di Jalan Kemenangan III Petak Sembilan Nomor 13, Glodok, Jakarta Barat, Rabu (6/6) sore. Semakin melangkah ke dalam alunan lagu puja-puji dewa terdengar merdu dan nyaring.
Berada tak jauh dari pintu masuk, terlihat belasan warga dari etnis Tionghoa mengelilingi sebuah meja merah panjang. Laki-laki, perempuan, tua, dan muda bekerja cekatan tanpa banyak bicara. Seorang laki-laki jangkung di antara kerumunan itu dengan lihai memasukkan nasi kuning dalam mangkok, lalu disodorkan ke orang di sebelahnya.
Sekejap potongan kacang polong dan tempe, ayam semur, gorengan, sambal, urap, dan kerupuk telah menumpuk dalam piring. Di ujung meja lain, dua perempuan sibuk menuang bubur kacang hijau dan teh manis hangat ke dalam gelas-gelas minum yang tersedia. Ada puluhan warga Tionghoa yang berebut ingin terlibat sampai berdesakan.
Menjelang azan magrib, suasana Wihara Dharma Bhakti mulai gaduh. Anak-anak, para tunawisma, dan warga sekitar sudah mengantre panjang. Dalam waktu singkat, piring berisi nasi kuning dan aneka minuman yang telah disiapkan tadi segera berpindah ke tangan-tangan mereka.
Demikianlah suasana kebersamaan yang tercipta dalam buka puasa bersama di wihara yang telah berusia lebih dari 400 tahun itu pada Ramadan ini. Tidak hanya warga muslim, setidaknya ada ratusan warga Tionghoa yang juga ikut mengantre. Mohammad Jusuf Hamka, 61, inisiator yang menyajikan menu berbuka di Wihara Dharma Bhakti itu.
Jusuf merupakan mualaf dan menjabat sebagai pimpinan organisasi Muslim Tionghoa Indonesia (Musti) dan juga pembina di Wihara Dharma Bhakti. Jusufl ah yang menyarankan umat Buddha di wihara itu untuk melakukan kegiatan berbagi kepada sesama. Konsep Warung Nasi Kuning Podjok Halal bagi duafa yang dijalankan Jusuf selama beberapa bulan terakhir, diadopsi di acara buka puasa bersama tersebut.
“Saya yakinkan mereka, berbuat baik tidak perlu melihat agamanya. Sama binatang saja kalian berbuat baik. Ingat sekitar kita masih banyak manusia yang masih lapar. Jangan berpikir agama dan suku sama dengan kalian. Jutru sama binatang mau kalian bantu, kenapa ini tidak? Jadi, mereka merasa masuk di akal sehingga lahirlah agenda buka puasa gratis ini,” kata pria yang tinggal dan besar di kawasan Krekot Bunder, Pasar Baru Jakarta Pusat itu.
Pahala itu hoki
Jusuf mengatakan, dalam ajaran Islam, siapapun yang melayani orang berbuka puasa pahalanya sama besarnya. Apalagi memberikan makan. Pemahaman itu yang coba disyiarkannya. “Pahala itu hoki sehingga umat Tionghoa berlombalomba berbagi, terlebih di bulan Ramadan,” tutur Komisioner Independen PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) itu.
Ditegaskan Jusuf, semua makanan dan minuman yang disajikan halal karena dibuat oleh masyarakat setempat untuk memberdayakan mereka. Langkah itu tidak menurunkan omzet pedagang sejenis di sekitar sekaligus menutup celah provokasi.
“Jika dikatakan tidak halal, yang dagang ibu haji. Makanya jangan masak sendiri. Tentunya tidak bisa ada yang memprovokasi jika kita serahkan makanannya sama warung setempat,” ujarnya. Pada hari biasa, Jusuf menjual nasi kuning tersebut di depan kantornya di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara. Selain di situ, masih ada empat lokasi lainnya di Jakarta. Masyarakat yang tidak mampu bisa membeli nasi kuningnya seharga Rp3.000 saja. Sebenarnya bisa
saja, ia berikan gratis tetapi, ada rasa menjaga harga diri sesama.
Selama Ramadan, Warung Nasi Kuning Podjok Halal hanya buka menjelang berbuka. Tentunya mereka tetap menyediakan nasi kuning lengkap dengan lauk dan diberikan secara cuma-cuma alias gratis.
Lewat usaha sosial nasi kuning itulah Jusuf bersyukur kepada Allah SWT, sekaligus menghormati ibunya yang juga pernah berjualan nasi kuning untuk menghidupi keluarga dan membayar biaya sekolahnya. “Sehari-hari rezeki yang diberikan Allah tidak hanya berupa material. Seperti oksigen, kuping bisa dengar, mata bisa lihat, tangan bisa gerak, dan lidah masih bisa mencicip, dan banyak lagi. Ini karunia dari Allah, saya berpikir saya mau dagang nasi kuning menghormati ibu saya,” tutur Jusuf.
Prinsip Jusuf, sedekah seharusnya menjadi berkah. Oleh karena itu, ia memberdayakan ekonomi warga dengan membelinya dari warung-warung di sekitar masjid. Lucas Tjang, salah satu warga Tionghoa yang juga donatur acara buka puasa bersama itu, mengungkapkan, pihaknya memang terinspirasi dari Warung Nasi Kuning Podjok Halal yang digagas Jusuf Hamka.
“Selain menyediakan dana guna menyukseskan kegiatan ini, kami juga terlibat langsung mempersiapkan menu berbuka, anggota keluarga kami hadir semua membantu,” katanya. Adapun dana buka puasa bersama duafa didapat dari para pedagang Tanah Abang dan Jatinegara yang juga beribadah di Wihara Dharma Bhakti.
Apa yang dilakukan Jusuf Hamka dan Lucas Tjang membuktikan, masyarakat Indonesia saat ini semakin peduli dan memiliki keinginan besar untuk berbagi dalam bentuk apapun. Berbagai cara dilakukan, tetapi tujuannya sama, menebarkan kebaikan dan membantu sesama. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved