NU, Muhammadiyah Deklarasi Kurangi Sampah Plastik

Thomas Harming Suwarta
06/6/2018 06:20
NU, Muhammadiyah Deklarasi Kurangi Sampah Plastik
(ANTARA FOTO/FB Anggoro)

PENGENDALIAN sampah plastik harus menjadi sebuah gerakan agar menjadi kesadaran bagi masyarakat. Untuk itu, pemerintah terus mengampanyekan pengurangan sampah plastik dengan melibatkan semakin banyak elemen di masyarakat.

“Sebagai gerakan kami akan terbuka dengan semua pihak untuk bekerja sama. Mulai dari skala rumah tangga, pemerintah, organisasi kemasyarakat­an dan perusahaan,” kata Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati pada acara Deklarasi Gerakan Pengurangan Sampah Plastik PBNU dan PP Muhammadiyah, di Gedung Manggala Wanabakti KLHK di Jakarta, Selasa (5/6).

Pelibatan NU dan Muhammadiyah, lanjutnya, merupakan inspirasi bagi masyarakat lain untuk bersama-sama terlibat dalam gerakan itu. “Kekuatan kita tentu ada di masyarakat itu sendiri maka peran PBNU dan Muhammadiyah dan tentunya organisasi lain juga sangat kita harapkan sehingga ini benar-benar menjadi sebuah gerakan bersama yang masif,” jelas Vivien.

Dengan merujuk data yang dihimpun KLHK, tambahnya, jumlah timbunan sampah plastik diperkirakan 14% dari total sampah harian atau 24.500 ton per hari atau setara 8,96 juta ton per tahun.

“Sampah kantong plastik terus meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Sekitar 9,5 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat kita dan 95% dari itu menjadi sampah. Artinya ini ada pekerjaan rumah besar yang harus kita hadapi bersama,” tegas Vivien.

Pada kesempatan yang sama, Pengurus Besar NU dan PP Muhammadiyah mendeklarasikan komitmen mengurangi sampah plastik. Deklarasi diikuti dengan penandatanganan komitmen dua organisasi besar umat Islam tersebut.

“Intinya kita ingin mengajak umat agar sadar bahwa komitmen ini juga sesuatu yang Islami. NU sendiri sudah banyak mengupayakan pengurangan sampah plastik, seperti daur ulang atau dengan bank sampah termasuk sosialisasi gaya hidup tanpa plastik,” kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI NU Fitria Ariayani.

Masuk kurikulum
Terpisah, Kepala Subbarang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik, mengatakan edukasi pemilahan sampah serta kesadaran bijak penggunaan plastik harus dilakukan sejak dini dan masuk dunia pendidikan resmi.

“Edukasi ini harus diterapkan di sekolah formal bagian dan masuk kurikulum. Orang Jepang sejak prasekolah sudah diajarkan kita belum ada,” ujarnya, pada peluncuran Bijak Berplastik bersama Danone Aqua, di Jakarta Pusat.

KLHK, tambahnya, telah membuat nota kesepahaman dengan Kemendikbud untuk memasukkan edukasi perilaku terhadap sampah alam kurikulum. Pihaknya berharap kebijakan itu dapar terealisasi secara nasional dalam waktu dekat. Sementara itu, Director of Sustainable Development Danone Aqua, Karyanto Wibowo, menjelaskan sejak 2010 pihaknya telah melakukan berbagai terobosan dengan bijak menggunakan plastik. (Sru/X-7)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya