Pengurangan Sampah Plastik Harus Jadi Gerakan Masif di Masyarakat

Thomas Harming Suwarta
05/6/2018 19:00
Pengurangan Sampah Plastik Harus Jadi Gerakan Masif di Masyarakat
(ANTARA)

PEMERINTAH melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus mengampanyekan pengurangan sampah plastik dengan melibatkan semakin banyak elemen di masyarakat, mulai dari skala rumah tangga, pemerintah, organisasi kemasyarakatan dan perusahaan.

"Intinya bagaimana pengendalian sampah plastik harus menjadi sebuah gerakan agar kesadaran ini terus disadari oleh masyarakat. Sebagai gerakan tentu saja kami akan terbuka dengan semua pihak untuk bekerja sama," kata Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Rosa Vivien Ratnawati, pada kesempatan Deklarasi Gerakan Pengurangan Sampah Plastik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (5/6).

Pelibatan NU dan Muhammadiyah, kata dia, merupakan inspirasi bagi masyarakat yang lain untuk bersama-sama terlibat dalam gerakan ini.

"Kekuatan kita tentu ada di masyarakat itu sendiri, maka peran PBNU dan Muhammadiyah dan tentunya organisasi yang lain juga sangat kita harapkan sehingga ini benar-benar menjadi sebuah gerakan bersama yang masif,” jelas Vivien.

Merujuk data yang dihimpun KLHK kata dia jumlah timbunan sampah plastik diperkirakan sebesar 14% dari total jumlah timbunan harian atau 24.500 ton per hari atau setara 8,96 juta ton per tahun.

"Dan tambahan lagi jumlah timbunan sampah kantong plastik terus meingkat signifikan dalam 10 tahun terakhir ini. Dan sekitar 9,5 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat kita dan 95% dari itu menjadi sampah. Artinya, ini ada pekerjaan rumah besar yang harus kita hadapi bersama," tegas Vivien.

Perang terhadap sampah plastik menjadi penting, lanjut dia, juga karena dampaknya yang serius karena plastik adalah bahan yang sulit terurai secara alami sampai ratusan tahun sehingga dapat mencemari dan merusak ekosistem tanah dan air. Plastik juga menjadi salh satu penyebab tersunbatnya aliran air sungai, drainase dan gorong-gorong.

"Dan isu yang sedang hangat saat ini ialah bagaimana sampah plastik juga sudah mencemari ekosistem laut dalam bentuk mikroplastik yang mengganggu biota laut," lanjutnya.

Gerakan pengendalian sampah plastik, menurut dia, bisa dimulai dengan mengganti kantong plastik dengan kantong belanja yang dapat digunakan berulang kali.

"Termasuk mengurangi pemakaian minuman botol kemasan dengan memakai botol minuman sendiri yang bisa diisi ulang dan tentu masih banyak inisiatif lain yang bisa dilakukan bersama," pungkas Vivien. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya