Abah Rosyid Tak Menyangka Dapat Maarif Award 2018

Astri Novaria
27/5/2018 21:42
Abah Rosyid Tak Menyangka Dapat Maarif Award 2018
(MI/Susanto)

SALAH satu anggota dewan juri "Maarif Award 2018", Sudhamek AWS mengatakan pemimpin lokal sebetulnya memiliki kapasitas yang tidak kalah dengan pemimpin pusat. Menurut Sudhamek, kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin lokal hanya satu, yakni popularitas.

"Para 'local hero' yang dijaring sebetulnya punya kapastias yang tidak kalah dengan para pemimpin pusat. Kalau pun ada, mereka hanya kalah populer saja," ujarnya di Gedung Metro TV di Jakarta, Minggu (27/5).

Pihaknya melanjutkan, proses seleksi yang dilakukan dewan juri sangat ketat hingga sampai kepada tahap investigasi untuk melihat sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap sosok pemimpin lokal tersebut. Menurutnya sangat penting bagi juri menemukan sosok yang membawa perubahan di masayrakat bukan hanya untuk satu kelompok atau golongan saja melainkan juga kepada khalayak banyak.

"Mudah-mudahan bisa mendorong inspirasi bagi banyak orang. Orang yang mempunyai kepemimpinan kuat ini sebetulnya sederhana saja bagi saya, adalah roang yang tidak lagi berorientasi buat dirinya sendiri tetapi buat orang lain. Dia bukan tipe yang self center," pungkasnya.

Sosok itu bernama Abdul Rosyid Wahab, dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) Abdul Rosyid Wahab atau yang akrab disapa Abah Rosyid dikenal sebagai sosok pelintas batas primordial dan promotor toleransi antarumat beragama di kabupaten Sikka, Maumere, NTT.

Jejaknya merentang dari pencegahan konflik suku, agama, ras dan antargolongan, pendampingan bencana alam Rokatenda, hingga mempelopori lembaga pendidikan Muhammadiyah di Maumere yang 80 persen guru dan pelajarnya merupakan umat Katolik dan Kristen.

Abah Rosyid tak menyangka ia akan menerima penghargaan ini. Apa yang dilakukannya selama ini, murni menjalankan nilai-nilai agama Islam sebagai alat pemersatu umat. Pria berusia 81 tahun ini merenungkan bahwa kebersamaan merupakan pedoman utama baginya dalam menjalin persatuan antarkelompok masyarakat. Ia juga merasa tak melakukan berbagai pekerjaannya sendirian.

"Saya terharu, tidak menyangka sama sekali. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan Katolik. Dari SD sampai SMA saya di sekolah Katolik, jadi saya mengenal mereka dan mereka mengenal saya. Sudah tentu (yang saya lakukan) untuk kemaslahatan bagi masyarakat. Saya ini orang biasa tiba-tiba datang ke sini saya merenung apa yang bisa saya lakukan hingga bisa sampai sini. Di situlah saya merasa bermakna, jadi bukan saya sendiri tapi banyak yang sama-sama dalam kebersamaan ini. Kami sama-sama turun untuk mensosialisasikan pentingnya kebersamaan ini," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya