Jaga Kebersihan, Cegah Infeksi di Area Kewanitaan

(*/H-2)
16/5/2018 06:30
Jaga Kebersihan, Cegah Infeksi di Area Kewanitaan
(THINKSTOCK)

AREA kewanitaan merupakan bagian yang sensitif, intim, dan vital bagi perempuan. Oleh karena itu, menjaga kebersihan area kewanitaan menjadi hal yang penting. Jika kebersihan area kewanitaan tidak baik, dapat memicu ketidakseimbangan tingkat keasaman atau pH dan menyebabkan infeksi.

"Infeksi pada area kewanitaan yang berulang dapat menyebabkan infeksi panggul, infeksi saluran kencing, infertilitas, kerusakan sistem imun tubuh, sampai infeksi menyeluruh (sepsis)," ujar dokter Mery Sulastri, Educator and Trainer Mundipharma Indonesia, pada peluncuran Betadine Feminine Wash di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, flora di vagina terdiri dari 95% bakteri baik (lactobacillus) dan 5% flora komensal. Jika pH terganggu, keseimbangan flora akan terganggu pula hingga menyebabkan bakteri jahat berkembang.

"Area kewanitaan memiliki tingkat pH alami di angka 3,8-4,2. Keseimbangan pH alami perlu dijaga agar bakteri baik lactobacillus di area kewanitaan tetap mendominasi. Bakteri baik ini bisa mencegah area kewanitaan dari berbagai gejala infeksi, seperti gatal, bau, dan keputihan berlebih," terang Mery.

Karena itu, lanjutnya, untuk keperluan membersihkan area kewanitaan, perempuan membutuhkan sabun khusus yang akan membantu keseimbangan pH. Akan lebih baik jika sabun khusus kewanitaan itu juga mengandung prebiotik.

"Prebiotik juga berfungsi sebagai makanan atau nutrisi bagi perkembangan bakteri baik di area kewanitaan. Dengan demikian, prebiotik ini bisa tetap menjaga tingkat pH normal di area kewanitaan.” Merry menjelaskan, sabun khusus kewanitan dapat digunakan sejak pubertas atau sejak mengalami menstruasi.

"Saat menstruasi, terjadi perubahan pH dari normalnya 3,8-4,2 menjadi 8-9. Sebenarnya pH vagina yang asam adalah mekanisme pertahanan vagina terhadap bakteri jahat yang mungkin menyerang, sedangkan saat menstruasi pH menjadi basa sehingga ini menjadi saat-saat yang rawan karena kuman lebih gampang berkembang biak."

Tentu saja, sambung Mery, mengganti pembalut secara rutin saat menstruasi penting dilakukan untuk menjaga higienitas. Menurutnya, sering terjadi para remaja putri melakukan kekeliruan saat menstruasi. Contohnya, mengganti pembalut hanya 1 kali dalam sehari. Padahal, seharusnya pembalut diganti 3-4 jam sekali, maksimal 6 jam sekali pembalut harus diganti.

"Hal ini terjadi karena memang darah menstruasi pada remaja putri tidak banyak sehingga mereka merasa tidak perlu mengganti pembalut. Padahal,  kebiasaan mengganti pembalut hanya jika sudah penuh ini sangat tidak baik karena area kewanitaan sifatnya lembap dan saat menstruasi menjadi semakin lembap. Jika lembap berlebihan maka dapat menjadi sarang dari bakteri-bakteri jahat."

Selain menstruasi, faktor apalagi yang dapat mengganggu area keseimbangan pH vagina? Di antaranya pemakaian sabun mandi dan hubungan seksual. Sabun mandi memiliki pH 9-10 sehingga tidak cocok untuk vagina. Adapun hubungan seksual akan menyebabkan peningkatan pH juga karena cairan sperma memiliki pH 7,1-8.  "Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencuci daerah kewanitaan setelah berhubungan intim," imbuh Mery. (*/H-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya