Deteksi Dini Demensia

Sri Utami
16/5/2018 05:00
Deteksi Dini Demensia
()

RATU Tita masih berusia 19 tahun saat sang ayah mengalami demensia. Perjuangannya mendampingi sang ayah sejak 2013 benar-benar menguras emosi dan masa mudanya.

"Aku harus menyelesaikan kuliah, tapi di rumah juga harus lihat Ayah marah-marah, banting barang pecah belah, mandi berkali-kali, dan bahkan sempat hilang beberapa hari. Sulit, memang, tapi harus dihadapi karena yang dibutuhkannya kita, keluarganya," tutur Tita, mengenang sang ayah yang telah wafat sebulan lalu.

Tita harus menghadapi masa sulit itu sekitar lima tahun. Termasuk menghadapi tekanan yang luar biasa dari keluarga besar ketika dia dan keluarga memutuskan agar sang ayah dirawat sementara di rumah sakit jiwa di Malang, Jawa Timur. Keputusan itu bukan berarti dia meninggalkan dan menyerahkan ayahnya kepada rumah sakit. Tita menyadari yang dibutuhkan sang ayah ialah kasih sayang keluarga.

"Ayahku demensia, ayahku tidak gila. Kami ingin lakukan yang terbaik untuk Ayah," ucapnya saat ditemui baru-baru ini. Rupanya, keputusan yang diambilnya tepat. Rumah sakit yang dipilihnya merawat sang ayah dengan sangat baik. Keluarga besar Tita pun akhirnya paham bahwa perawatan yang diberikan ialah perawatan demensia, bukan gangguan jiwa. "Biaya perawatan dan obatnya ditanggung BPJS," imbuhnya.

Pengalaman serupa dialami Amelia. Sudah enam tahun lebih ia merawat dua mertuanya yang mengalamai demensia yang berbeda. "Keduanya demensia, tapi berbeda perilaku. Satu maunya diam saja, cenderung menjauh dari kami anak-anaknya dan satu lagi justru aktif maunya bergerak, jalan terus," jelasnya.

Tidak berbeda dengan Tita, pengalaman yang menguras kesabaran dan emosi juga menjadi makanan sehari-hari Amelia. Mulai dilempar benda keras, dimarahi tanpa sebab, hingga sulit berkomunikasi. "Yang saya lakukan, harus kreatif menciptakan suasana yang mereka sukai. Itu penting dilakukan setiap saat," terangnya.

Untuk membantu perawatan, ia menggunakan jasa perawat dan asisten rumah tangga. "Tapi sebelumnya saya harus transfer ilmu dulu kepada mereka apa itu demensia, bagaimana mengenali karakter mereka, dan sebagainya," ungkapnya.
Bahkan Amel memasukkan ayah mertuanya ke sekolah khusus, Senior Club Indonesia, agar sang ayah setiap hari memiliki aktivitas positif.

Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah - Bintaro Jaya, Gea Pandhita, menjelaskan demensia atau pikun merupakan suatu sindrom penurunan kemampuan intelektual progresif yang mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari.
"Demensia kerap dikaitkan dengan pelupa. Tapi perlu diingat, demensia tidak hanya terkait masalah penurunan daya ingat. Pelupa juga belum tentu demensia," terang Gea pada diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan kehilangan benda-benda karena lupa menaruh merupakan hal biasa. Namun, lupa tempat menyimpan barang dan tidak mampu menelusuri kembali langkah-langkah untuk menemukannya termasuk tanda demensia. "Sesekali lupa kosakata yang akan digunakan itu wajar, tapi kalau sampai kesulitan membuat percakapan, bisa jadi tanda demensia," katanya.

Gea memaparkan demensia terjadi karena kematian sel-sel otak. Bisa terjadi karena stroke atau disebut demensia vaskular, bisa karena penyebab lain. "Di antara jenis demensia, 50%-75% kasus demensia merupakan jenis demensia alzheimer."
Demensia alzheimer merupakan penyakit progresif, yakni semakin bertambah parah seiring dengan waktu. Progresivitas itu tecermin dalam gejala yang dialami penderita. Awalnya ringan, lama-kelamaan semakin parah. Seperti lupa jalan pulang, lupa keluarga bahkan lupa diri sendiri, tidak bisa menangani pekerjaan biasa, hingga kerap memancing emosi orang-orang sekitar karena sering salah paham.  

Kenali tahap prademensia
Gea menjelaskan hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti demensia alzheimer. Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit yang progresif itu. Obat-obatan yang ada 'hanya' berfungsi memperlambat progresivitas penyakit itu.

"Karenanya, penting untuk mendeteksi dini alzheimer dan menanganinya dengan tepat. Ada kondisi yang disebut prademensia atau mild cognitive impairement. Jika kondisi itu bisa dideteksi dan ditangani, demensia bisa dicegah. Tapi kalau seseorang terlambat terdeteksi hingga sudah masuk tahap demensia, yang bisa dilakukan hanya memperlambat tingkat keparahannya."

Karena itu, Gea menyarankan agar orang yang mengalami dua dari 10 tanda umum demensia alzheimer (lihat grafik) untuk memeriksakan diri ke dokter. "Dokter akan melakukan medical check up fungsi otak. Jika benar mengarah pada demensia, akan dilakukan penanganan lanjutan," pungkasnya. (*/H-2)

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya