Cermati Gejala Artritis Rematoid

Cri Qanon Ria Dewi
18/3/2015 00:00
Cermati Gejala Artritis Rematoid
(MI/Tiyok)
JARI-JARI tangan dan pergelangan, juga lutut serta pergelangan kaki, membengkak serta nyeri. Anggota tubuh itu pun kaku dan sulit digerakkan.

Derita itu nyaris setiap pagi dialami Andin, 24. Bahkan, ia sempat beberapa kali dirawat rumah sakit untuk dirawat, tanpa mengetahui apa penyakit pastinya.

Namun, derita itu telah berlalu. Sejak satu tahun lalu, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu berobat ke RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Di rumah sakit itu, ia baru mengetahui dirinya mengidap penyakit artritis rematoid (rheumatoid arthritis) kombinasi lupus.

Setelah melalui proses pengobatan secara teratur, derita Andin bisa diatasi. Bahkan, kini ia bisa melakukan aktivitas seperti sebelum sakit.

Rheumatoid arthritis (RA) ialah jenis peradangan sendi kronis yang biasanya terjadi pada sendi di kedua sisi tubuh, seperti tangan, pergelangan tangan, kaki, atau lutut.

Ketua Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA) yang juga dokter rematologi di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sumaryono mengutarakan tidak banyak yang tahu tentang penyakit artritis rematoid (AR). Padahal, penyakit itu berbahaya jika sudah mencapai stadium tinggi.

"Dampak terhadap kematian secara langsung memang tidak tinggi, tetapi AR merupakan suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan sendi dan kecacatan," ujarnya pada acara peluncuran kampanye bertajuk Cermati AR oleh IRA bekerja sama dengan produsen obat Roche di Jakarta, Jumat (13/3).

Cermati AR merupakan singkatan dari kata-kata cek, periksa, amati agar artritis rematoid terkontrol.

AR adalah penyakit gangguan imunitas (autoimun) yang menyerang sendi-sendi, terutama sendi kecil.

Biasanya, penyakit itu menyerang sendi tangan atau pergelangan tangan, sebelum menyerang seluruh tubuh.

Faktor pencetus
Sumaryono mengutarakan baik dokter umum maupun dokter penyakit dalam umumnya dapat melakukan pengenalan dan diagnosis awal penyakit ini.

"Untuk tahap pengobatan lebih lanjut sebaiknya dirujuk ke dokter rematologi. Namun, saat ini hanya terdapat 48 dokter rematologi di Indonesia."

Penasihat IRA, dr Bambang Setyohadi, menambahkan, jumlah dokter rematologi yang sedikit bukan masalah utama.

"Rematolog hanya sebagai konsultan karena sebenarnya dokter penyakit dalam bisa melakukan diagnosis," jelasnya.

"Yang jadi masalah ialah ketidaktahuan masyarakat (akan penyakit ini) sehingga kasus datang terlambat ke kami," tambah dokter rematologi di RSUPN Cipto Mangunkusumo itu.

Baik Sumariyono maupun Bambang menjelaskan faktor utama penyakit AR ialah faktor genetik maupun infeksi virus yang mengakibatkan gangguan imunitas.

"Studi terbaru menunjukkan perokok memiliki kemungkinan yang lebih besar menderita AR daripada mereka yang nonperokok," ungkap Bambang.

Terkait dengan pencegahan, sejauh ini belum ada larangan mengonsumsi makanan tertentu untuk mencegah penyakit AR.

Selain sendi, RA sesekali dapat memengaruhi kulit, mata, paru-paru, jantung, darah, atau saraf.

Deteksi dini
Sumaryono mengutarakan deteksi dini gejala AR akan menentukan keberhasilan terapi terhadap penderita.

"Mendeteksi dini AR dapat menentukan pengobatan AR yang benar. Pengobatan secara benar dan tepat menentukan tercapainya remisi."

Remisi merupakan masa-masa penderita AR bebas mengonsumsi obat dan berkurangnya rasa sakit.

Deteksi dini dan pengobatan yang terkontrol akan memperbesar peluang untuk terhindar dari kerusakan sendi yang berat dan mencegah komplikasi.

Pengobatan yang salah atau tidak terdeteksi bisa menimbulkan kecacatan, bahkan lumpuh karena terjadi kerusakan jangka panjang yang dapat menjadi kerusakan sendi.

Keterlambatan pengobatan AR, jelasnya, biasanya disebabkan pasien enggan untuk mencari terapi yang tepat secara dini.

Itu terjadi karena pasien menganggap penyakitnya hanya radang sendi biasa.

"Selain itu, karena keterlambatan merujuk ke internis/rematolog, diagnosis yang tidak tepat, kurangnya akses ke internis/rematolog, ketidaktahuan akan dokter ahli yang tepat untuk pengobatan artritis rematoid, dan jauhnya jarak ke tempat rujukan." (Theodora Luna/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya