RI Fokus Kelola Lahan Gambut

Agus Utantoro
25/4/2018 00:20
RI Fokus Kelola Lahan Gambut
(ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

INDONESIA kini fokus pada konservasi dan pengelolaan berkelanjutan lahan gambut setelah berhasil mencapai tata kelola kawasan yang sebelumnya rentan mengalami kebakaran, terutama saat musim kemarau.
Pengalaman mengelola lahan gambut itu menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dengan Menteri Lingkungan dan Energi Australia Josh Frydenberg pada rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ke-3 Hutan Hujan Asia Pasifik (Asia Pacific Rainforest Summit/APRS) di Yogyakarta, Senin (23/4).

Dalam KTT yang akan berlangsung hingga hari ini Siti mengatakan Indonesia telah banyak belajar dari pengelolaan gambut di masa lalu. Melalui berbagai pengalaman, penelitian, pengembangan, dan pengaturan kelembagaan, kini tata kelola gambut Indonesia menjadi lebih terarah. “Indonesia kini fokus dalam konservasi dan pengelolaan berkelanjutan lahan gambut,” katanya.

Dengan memiliki lahan gambut yang luas, ujarnya, Indonesia sangat rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama tiga tahun terakhir pemerintahan Presiden Joko Widodo melakukan berbagai langkah koreksi yang terbukti mampu membawa Indonesia pertama kalinya keluar dari bencana karhutla yang rutin terjadi.

Berbagai kebijakan dikeluarkan pemerintah, di antaranya komitmen politik, moratorium, kebijakan perlindungan gambut, pembentukan badan khusus untuk merestorasi gambut, penegakan hukum lingkungan, hingga bekerja sama dengan semua tingkatan pemerintah dan pihak terkait. Menurut Siti, hal tersebut memengaruhi secara signifikan yang berdampak pada berkurangnya degradasi dan kebakaran lahan gambut.

Setelah hampir dua dekade, Indonesia akhirnya berhasil mengatasi karhutla dan mencegah bencana asap lintas batas. “Ini mencerminkan tata kelola lahan gambut Indonesia yang lebih baik,” katanya. Indonesia juga berkolaborasi dengan internasional untuk mengimplementasikan target mencapai manajemen gambut berkelanjutan.

“Indonesia dan Australia akan bekerja sama di bawah kendali UN Environment dengan menggandeng Cifor (Centre for International Forestry Research),” kata Siti. Bahkan, tambahnya, pada akhir Juni mendatang menteri dari Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo akan mengunjungi Indonesia. Mereka akan mempelajari pengelolaan lahan gambut.

Kerja sama
Selain Kongo, Fiji akan belajar tentang pengelolaan hutan kepada Indonesia. Siti bersama Menteri Perikanan dan Kehutanan Fiji Osea Naiqamu, kemarin, menandatangani nota kesepahaman untuk kerja sama bidang pengelolaan hutan dan membangun kelestari­an alam.
Menteri Lingkungan dan Ener­gi Australia Josh Frydenberg mengapresiasi capaian Indonesia. Ia juga memuji kepemimpinan Indonesia dalam penyelenggaraan APRS III kali ini.

Menurut Josh, pada 2017 pendanaan hijau atau Green Climate Fund sepakat untuk melakukan proyek percontohan senilai A$500 juta untuk REDD+. (Pro/Sru/Ant/H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya