Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA yang menarik dalam pelaksanaan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) pada tahun ini. Sekarang farmasi dari Universitas Syiah Kuala menduduki urutan pertama deretan program studi (prodi) favorit atau paling banyak dipilih calon mahasiswa.
Kalau dulu, informatika selalu bertengger di level puncak. “Sekarang yang agak mencengangkan mungkin farmasi menjadi primadona,” ujar Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Intan Ahmad saat jumpa pers menjelang pengumuman SNMPTN 2018 di Jakarta, kemarin.
Menurut Intan, hal itu boleh jadi karena tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan peluang pangsa pasar obat-obatan kian tinggi. Kendati bukan tidak mungkin farmasi nanti juga termasuk salah satu sektor yang dibutuhkan dalam menghadapi revolusi industri 4.0.
Ketua Panitia SNMPTN/SBMPTN 2018 Ravik Karsidi menyebutkan, selain farmasi, pendidikan teknik informatika Universitas Negeri Yogyakarta juga masih menjadi pilihan utama setelah farmasi. Berikutnya teknik informatika Universitas Padjadjaran dan aktuaria Universitas Indonesia.
“Kami melihat memang ada pergeseran, tapi sepertinya masyarakat juga masih melihat ke depan revolusi industri 4.0. Makanya, ilmu komputer dan informatika tetap menjadi pilihan,” ungkapnya. Untuk prodi favorit kelompok sosial humaniora saat ini masih didominasi manajemen dan ilmu komunikasi. Meskipun demikian, prodi lain seperti akuntansi dan pariwisata tak luput dari lirikan banyak calon mahasiswa di PTN.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Panitia Pusat SNMPTN/SBMPTN 2018, Universitas Brawijaya menjadi perguruan tinggi nomor satu terbanyak dari jumlah siswa yang diterima PTN, yakni 3.341 orang. Universitas Halu Oleo (3.046) berada di posisi kedua dan diikuti Universitas Diponegoro (2.926).
Selain itu, ada pertanyaan tentang relevansi penilaian SNMPTN yang notabene masih melihat nilai hasil prestasi akademik ujian nasional, nilai rapor, serta tambahan portofolio siswa. Ravik menjawab bahwa hal tersebut masih relevan. “Pada prinsipnya kami ingin memberikan trust atau kepercayaan kepada sekolah,” tandas Ravik.
Kuota
Di sisi lain, pengamat pendidikan Doni Koesoema mengkritisi alokasi kuota 30% untuk masuk PTN lewat jalur prestasi alias SNMPTN. Ia menilai angka tersebut masih terlalu besar. Alasannya, siswa yang benar-benar pintar tidaklah mencapai 5%.
“Seharusnya hanya sampai 5% untuk jalur prestasi (SNMPTN), 10%-20% ujian mandiri yang juga sarana mendapatkan uang dari mahasiswa, dan sisanya lewat Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN),” tutur Doni, kemarin.
Dampak lanjutan kuota yang dianggap Doni terlalu besar itu ialah sekolah didorong berlomba-lomba untuk mengkatrol nilai siswa sehingga memenuhi kuota jalur prestasi tersebut. Akhirnya, ini justru membuka kesempatan terjadinya ‘perdagangan nilai’ antara wali murid dan sekolah agar siswa lolos dalam SNMPTN.
Kesan tersebut, menurut Doni, sudah tampak lewat keberadaan fenomena siswa yang masuk lewat SNMPTN tapi terpaksa keluar (drop out) di tengah masa kuliah karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Hal itu menjadi salah satu catatan buruk dari terlalu banyaknya kuota bagi siswa masuk PTN lewat jalur prestasi.
Sebagai agen perubahan bangsa, imbuh Doni, PTN seharusnya punya sistem seleksi lebih ketat dalam penerimaan mahasiswa di samping mengakomodasi mahasiswa dari kalangan tidak mampu. Terlebih, lulusan PTN saat ini masih dianggap sebagai lulusan unggulan jika dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi swasta.
Walaupun begitu, Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis berpendapat bahwa baku mutu dan sistem seleksi yang diterapkan lewat SNMPTN maupun SBMPTN sudah sesuai dengan kebutuhan PTN di Indonesia. Ia menilai panitia SNMPTN telah berupaya semaksimal mungkin untuk meloloskan calon mahasiswa yang sesuai dengan kriteria jurusan.
“Bagus kok semua sudah sesuai dengan standar yang disusun dan itu terus dimonitor dari baku mutu dan pelaksanaannya. Jadi, saya pikir oke-oke saja dan sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh universitas,” pungkas Anis. (Gnr/S-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved