Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN ujian nasional (UN) 2018 untuk SMA dan madrasah aliah yang berakhir kemarin dinilai relatif lancar. Pemerintah lalu menargetkan UN berbasis komputer (UNBK) di tahun depan mencapai 100%.
Saat ini UNBK SMA diikuti 11.364 sekolah (86%) dengan 1.394.825 peserta, sedangkan UN kertas dan pensil (UNKP) diikuti 1.890 sekolah (14%) dengan 139.477 siswa.
UNBK MA diikuti 7.932 sekolah (93%) dengan 416.899 siswa dan UNKP diikuti 932 sekolah (7%) dengan 32.731 siswa.
"Dari pantauan saya di Sulawesi Utara, hari terakhir pelaksanaan UN secara umum lancar," kata Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud, Purwadi, saat dihubungi, kemarin.
"Siswa lebih senang mengikuti UNBK karena mereka bisa fokus pada layar, tidak perlu alat tulis lagi," tambah Purwadi yang berharap UNBK dapat digelar 100% pada 2019.
Saat menanggapi target UNBK itu, Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, Satriwan, berharap pemerintah maksimal dalam menyediakan sarana pendukung, seperti komputer, akses internet, dan peladen (server). "Ada daerah yang fasilitasnya belum lengkap. Itu dulu yang mesti dibenahi," ujar Satriwan.
Keterbatasan sarana itu juga menyebabkan beberapa sekolah terpaksa bergabung dengan sekolah lain yang lebih mandiri seperti yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Senada, Kepala SMA Negeri 3 Kupang, NTT, Selfiana Dethan, menyebut UNBK di sekolahnya harus dibagi dalam tiga sesi karena jumlah komputer terbatas. "Solusi lainnya, sekolah meminjam laptop siswa selama berlangsungnya ujian Setelah itu, (laptop) dikembalikan," kata Selfiana.
Di Banjarnegara, Jawa Tengah, sekitar 5.000 siswa SMA dan MA harus menempuh UNBK susulan. Penyebabnya komputer Kemendikbud rusak akibat bug sehingga soal ujian tidak bisa diunduh.
Di sisi lain, sejumlah siswa mengeluhkan sulitnya UNBK mata pelajaran matematika. Rayhan Ocali, siswa Lab School Rawamangun Jakarta, misalnya, mencontohkan adanya soal integral.
"Namun, kami diminta menjawab dengan rumus yang bervarian, berbeda dengan yang diajarkan selama ini. Jadinya, saya terpaksa menebak-nebak," ujarnya.
Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan Kemendikbud Bambang Suryadi mengakui kesulitan tersebut. "Ini akan jadi bahan evaluasi untuk soal UN," kata Bambang.(Bay/YK/PO/LD/X-11)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved