Hoax Kanker Masuk 20 Terbanyak yang Dibagikan di Medsos

Indriyani Astuti
07/4/2018 18:55
Hoax Kanker Masuk 20 Terbanyak yang Dibagikan di Medsos
(ANTARA/RAHMAD)

HOAX atau informasi tentang kesehatan yang tidak benar sangat merugikan bagi masyarakat. dr. Gregorius Prajogi Sp.Onk.Rad dari Komite Nasional Penggulangan Kanker (KNPK) mengatakan ketidakbenaran informasi mengenai kesehatan atau penyakit tertentu dapat berdampak pada tertundanya pelaksanaan medis bagi pasien yang seharusnya segera mendapat penanganan seperti pasien kanker.

Ben, mengutip data dari The Independent menyebutkan bahwa pada 2016 hoax mengenai kanker di laman sosial media facebook merupakan salah satu dari 20 hoax terbanyak yang dibagikan. Lebih dari setengahnya bukan dibuat oleh dokter ataupun lembaga kesehatan. Sehingga kebenarannya belum terbukti valid. Menurut Ben, banyaknya informasi yang salah mengenai kanker dipengaruhi oleh mispersepsi seputar penyakit tersebut.

"Masih banyak orang yang menganggap begitu terkena kanker akan mati. Miskonsepsi yang salah. Sudah cukup banyak kanker yang ditemukan dini dan bisa ditangani. Dari premis-premis tadi orang akan cenderung membagikan informasi salah tentang kanker," tutur Ben dalam seminar bertajuk 'Hoax dan Fakta Pengobatan Kanker' dalam rangka perayaan Hari jadi ke-15 Cancer Information and Support Center di Auditorium Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) di Jakarta, pada Sabtu (7/4).

Dia menuturkan semakin suatu penyakit dianggap tidak bisa disembuhkan makin marak terapi alternatif dan komplementer bermunculan. Ben mencontohkan autisme, banyak klaim terapi tentang autisme, termasuk diet-diet tertentu. Sebab, hingga saat ini autisme sulit diobati dan penyebabnya belum diketahui.

"Kanker pun sama, berbeda dengan hipertensi dan diabetes yang sudah umum diketahui masyarakat, sangat sedikit hoax tentang itu.

Mendapat diagnosa kanker, tutur Ben, merupakan pukulan emosi bagi pasien. Dalam kondisi seperti itu ada kecenderungan, pasien lebih longgar dalam menyaring informasi yang dia dapatkan mengenai penyakitnya.

" Kondisi itu membuat orang mencari informasi yang ingin dipercayai. Salah satunya mencari terapi alternatif sehingga pada akhirnya banyak yang tertunda mendapat pertolongan medis. Sementara penyakitnya terus progressif," imbuh Ben.

Banyaknya informasi yang tidak benar di masyarakat mengenai kanker, sambung dia, berkaitan dengan iklan ataupun promosi produk herbal atau tata laksana non medis yang digunakan untuk terapi kanker. Menurutnya hal itu sangat merugikan masyarakat. Beberapa hoax terkait kanker, papar Ben diantaranya pasien kanker tidak boleh mengonsumsi gula karena akan membuat progresivitas sel kanker, superfood atau makanan tertentu dapat menyembuhkan kanker seperti rebusan daun sirsak, kulit manggis, dan minum jus lemon dapat mencegah kanker. Informasi tersebut, ujarnya perlu diluruskan.

"Terdapat perbedaan perilaku sel kanker terhadap glukosa darah. Namun data yang ada tidak menunjukan adanya dampak penurunan kadar gula darah terhadap kejadian kanker maupun keberhasilan terapi kanker," ucap dia.

Dalam menyikapi banyaknya hoax di masyarakat, Ben menyampaikan pemerintah telah berupaya membuat informasi yang dapat langsung menyasar masyarakat seperti iklan layanan masyarakat ataupun melalui situs dan sosial media resmi instansi kesehatan ataupun seminar. Namun, dia menekankan masyarakat yang pertama kali berperan dalam menyaring hoax karena itu apabila menerima informasi yang sumbernya belum jelas, perlu dikritisi. "Apabila ragu maka jangan dibagikan," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya