Beranilah Bermimpi

CS/M-4
05/4/2018 06:40
Beranilah Bermimpi
(MI/Pius Erlangga)

"SAYA berprinsip, jika kita selalu memberi, jangan pernah takut kekurangan. Beranilah bermimpi," ucap Peter Shearer Setiawan saat berbincang dengan Media Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.

Meski baru berusia 34 tahun, Peter sudah menjadi CEO dan Founder Wahyoo, sebuah aplikasi perusahaan sosial digital yang menggandeng ratusan warung makan. Mimpinya untuk dapat meningkatkan kesejahteraan para pemilik warung makan di Indonesia mulai menemukan jalannya.

Peter menyebutkan, selama ini pemilik warung makan tidak pernah bermimpi muluk-muluk. Mereka hanya berpikir untuk bisa bertahan hidup dan bagaimana agar anaknya dapat meneruskan usaha warung makannya.

"Karena itu, kita ajak mereka untuk berani bermimpi. Itu hashtag kita," imbuh suami dari Fiona Rosalie itu.

Ketulusan dalam bekerja merupakan prinsip yang dipegang Peter dan membuatnya bisa sampai di titik ini. "Enggak mudah, apalagi bagi saya yang lulusan SMA," tuturnya.

Peter yang baru lulus SMA dan tak memiliki pengalaman kerja, diajak sepupunya merantau ke Australia, pada 2001 silam. Di usianya yang baru 16 tahun, Peter harus bekerja serabutan untuk mengumpulkan modal yang akan dibawanya pulang ke Tanah Air. Upah yang didapat Peter sebesar A$7 Australia per jam di saat rupiah masih Rp3 ribu per dolar Australia. "Saya kerja keras. Saya belajar dan kumpulkan uang," ujarnya.

Sekembalinya ke Indonesia, Peter pun mencoba keberuntungan dengan membuka usaha konveksi untuk membantu orangtuanya. Usahanya itu hanya berjalan tiga bulan dan terpaksa gulung tikar.

Peter lalu mencoba peruntungannya dengan bekerja di sebuah perusahaan periklanan (advertising). "Tetapi, baru bekerja tiga bulan, saya kena pemutusan hubungan kerja (PHK), " kisahnya.

Setelah itu, Peter kembali membuka usaha pembuatan seragam. Hampir setiap hari dirinya harus mengirimkan 100 penawaran ke perusahaan. Kerja kerasnya itu diiringi dengan doa. "Tuhan berikan kepada orang yang tepat," ujar Peter.

Karier Peter mulai cemerlang saat dia membangun pengembangan produk berbasis augmented reality bersama AR & Co hingga menjadi CEO dan Founder Wahyoo.

"Jangan pernah bosan dengan belajar. Saya terus mencoba menggali kemampuan saya. Saya berterima kasih kepada Google yang banyak membantu saya, lalu perusahaan yang melakukan PHK. Belum tentu saya bisa sukses seperti ini," cetusnya.

Kini, Peter mengaku masih mengejar mimpinya yang lain, yakni mendirikan yayasan atau panti asuhan khususnya untuk para anak jalanan. "Saya sangat sedih melihat anak-anak yang ada di jalanan. Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang harus dijaga, baik kesehatan maupun kualitas makanannya," ucap Peter.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya