Perdagangan Anak dengan Modus Magang ke LN Marak di NTT dan Jateng

Indriyani Astuti
03/4/2018 15:31
Perdagangan Anak dengan Modus Magang ke LN Marak di NTT dan Jateng
(MI/MOHAMAD IRFAN )

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan ada trend Tindak Pidana Perdagangan orang (TPPO) serta eksplotasi anak dengan modus baru yakni melalui Program Magang Palsu Keluar Negeri.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan siswa sekolah kejuruan merupakan kelompok yang rentan menjadi korban perdagangan orang.

"Mafia perdagangan orang menjadikan mereka sasaran dengan iming-iming magang ke luar negeri," ujar Retno dalam konferensi pers di Kantor KPAI, Jakarta, pada hari ini.

Dia menyebut diduga kuat, sindikat perdagangan orang kerap beroperasi di berbagai sekolah kejuruan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Tengah. Namun Retno enggan menyebut nama sekolah secara spesifik. NTT, ujar dia, adalah provinsi yang paling rawan terjadi perdagangan orang. Data KPAI pada 2017, terdapat 137 kasus perdagangan orang dan korbannya sebagian adalah siswa sekolah menengah kejuruan.

"Dalam sejumlah kasus, justru guru sekolah bersangkutan memberi restu siswanya untuk ikut program magang palsu ini. Meski hal ini terjadi akibat ketidaktahuan para guru," ucap dia.

Sehingga, imbuh Retno, para siswa diberangkatkan ke luar negeri tanpa sertifikasi kompetisi ataupun pelatihan, menggunakan paspor dengan visa kunjungan, serta tanpa kartu tenaga kerja luar negeri. Selain NTT, menurut KPAI modus serupa juga dilakukan di kelompok mafia perdagangan orang di Kendal, Jawa Tengah. Sekitar 152 siswa kejuruan, imbuh dia, menjadi korban perdagangan orang setelah diberangkatkan magang ke Malaysia pada 2016 oleh PT Sofia Sukses Sejati.

"Modus perusahaan terungkap dalam surat dakwaan Direktur Utama PT Sofia Sukses, Windi Hiqma Ardani, yang diperoleh Tempo. Windi didakwa di Pengadilan Negeri Semarang dalam kasus perdagangan orang pada awal Februari lalu," ungkapnya.

Perusahaan yang berbasis di Semarang itu, ujar Retno, mendatangi sekolah-sekolah untuk mempresentasikan kesempatan magang di luar negeri bagi siswa tingkat akhir. Selain itu,mereka juga membuat perjanjian kerja sama program magang dengan sekolah.

Dari data yang berhasil dihimpun KPAI, tercatat sejak berdiri pada 2009, perusahaan ini telah memberangkatkan setidaknya 600 siswa dari berbagai SMK di Jawa Tengah untuk dikirim ke Malaysia.

"Para siswa yang awalnya dijanjikan magang di perusahaan elektronik itu lantas dipekerjakan di kilang walet Maxim Birdnest milik Albert Tei di Selangor, Malaysia. Mereka bekerja lebih dari 18 jam sehari dengan gaji minim dan potong gaji bila mereka sakit," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya