Bripka Wahyu Mulyawan Polisi Sayur Mencari 1.000 Anggota Keluarga

Suryani Wandari Putri
30/3/2018 23:15
Bripka Wahyu Mulyawan Polisi Sayur Mencari 1.000 Anggota Keluarga
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

MENJADI polisi tentu memiliki kebanggaan tersendiri. Bertanggung jawab untuk selalu menjaga ketertiban warga pun harus lahir dalam diri polisi. Itulah yang dilakukan Bripka Wahyu Mulyawan, polisi di Medan, Sumatra Utara, yang mendapat gelar polisi sayur.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Sebabnya, sejak 2015 Wahyu menghabiskan waktunya dengan petani sayur. Kala itu banyak petani yang mengeluh hasil panen dipermainkan tengkulak atau pedagang perantara yang membeli hasil bumi dari petani atau pemilik pertama.

"Biasanya sebelum sampai ke pasar kira-kira 1 kilometer, hasil panen petani ini diborong tengkulak. Selama ini para petani hanya 1 kali masuk ke pasar sehingga para petani mengeluhkan tak tahu harga sayur di pasar berapa," kata Wahyu.

Terdorong untuk membantu para petani, Wahyu merangkul para petani dan menampung hasil panen mereka. Karena mendapat respons dari para petani, Wahyu pun mendirikan gudang sayur untuk dapat menampung hasil panen lebih banyak lagi.

Ia juga terus memantau harga pasar agar bisa menjual hasil panen sesuai dengan harga yang berlaku. Namun, untuk mendukung operasional gudang, ia menetapkan selisih harga Rp10 ribu dari setiap kilogram hasil panen.

Awal 2018 Wahyu mulai membuka sayur daring. Dengan menggandeng 12 rumah makan, Wahyu menyediakan aneka sayur dan buah yang mereka butuhkan. Beberapa jenis sayur ada yang berasal dari gudang sayur, tapi sebagian besar beli di pasar Medan. Di sayur daring ini, Wahyu pun memberdayakan dua orang disabilitas untuk mengupas bawang dan membantu pengemasan.

Bagi Wahyu, kepedulian kepada masyarakat merupakan wujud tanggung jawab sebagai polisi, terlebih sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.

 

Janji

Berhasil merangkul petani itu seakan ia berhasil memenuhi janjinya kepada keluarga. Ia kehilangan keluarganya saat terjadi tsunami Aceh 2004. "Saya bertugas d kota sedangkan nenek, orangtua, dan keempat adik saya hilang dalam musibah tersebut, sampai saat ini saya tidak tahu kuburannya mereka ada di mana," ungkap Wahyu.

Saat ia pindah tugas ke Medan, ia kembali ke rumahnya yang telah untuk berdoa meminta izin kepada Yang Mahakuasa. "Di bekas rumah saya yang sudah menjadi laut, saya duduk dan berdoa. Ya Allah akan saya cari seribu ayah, seribu mama, seribu adik, izinkan saya tinggal di tempat yang baru dan berbuat baik di sana," ucap Wahyu.

Wahyu yakin dengan perkataan ibunya tempo dulu bahwa saudara kandung bukan hanya orang yang dilahirkan dalam satu rahim ibu, melainkan ia yang ikhlas membantu dirinya saat kesusahan sehingga Wahyu terus merangkul beberapa orang dalam berbagai komoditas. Seperti para petani, ia pun membina tukang ojek, becak motor, dan warung kopi di wilayah Paya Pasir Medan Marelan, Sumut.   (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya