Raih Diversity Award 2018, Furqon Soroti Rumah Syariah di Yogyakarta

Syarief Oebaidillah
30/3/2018 17:30
Raih Diversity Award 2018, Furqon Soroti Rumah Syariah di Yogyakarta
(Ist)

MARAKNYA rumah-rumah syariah di berbagai daerah khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikhawatirkan mencuatkan segregasi pluralisme di provinsi tersebut.

"Ya, bagaikan jamur di musim hujan di setiap kabupaten di DIY perumahan dengan label syariah ini bermunculan, bahkan ada yang mengkhususkan hanya untuk satu agama saja. Dulu, ada kos khusus muslim, sekarang ada perumahan khusus muslim, ini malah semakin menambah segregasi pluralisme di Yogyakarta," kata Furqon Ulwan Himawan, wartawan Media Indonesia Biro Yogyakarta yang meraih Fellowship 2018 dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) pada Diversity Award 2018.

Ia terpilih dengan karya 'Maraknya Rumah Rumah Syariah di Yogyakarta'. Pada 2016, Furqon juga meraih penghargaan penulis media cetak terbaik dari Sejuk tentang memudarnya toleransi di Yogyakarta.

Ia menegaskan, seharusnya, DIY sebagai kota pelajar, kota budaya, dan miniatur Indonesia, ikut merawat kebinekaan dan tidak mengotak-kotakkan perumahan seperti itu.

Hemat dia, pada satu sisi mungkin agama menjadi komoditi ekonomi tapi efeknya hal ini menciderai keberagaman di Indonesia yang harusnya dirawat.

Sebagai rangkaian Diversity Award 2018, SEJUK selalu menyertakan program bantuan terbatas kepada jurnalis di Indonesia untuk melakukan liputan isu keberagaman dengan bersetia pada konstitusi dan hak asasi manusia.

"Fellowship Liputan Keberagaman 2018 bertujuan untuk mendorong jurnalis dan media massa cetak, online, radio, dan televisi lebih memberi perhatian terhadap isu keberagaman agama dan kepercayaan, etnis, serta gender dan seksualitas dengan menggunakan kaca mata toleransi atau pluralisme dan hak asasi manusia," kata Ahmad Junaidi, Direktur Sejuk yang juga Dewan Juri pada Diversity Award 2018 di Jakarta, Kamis (29/3) malam.

Selain Ahmad Junaidi, yang terlibat menjadi juri fellowship adalah produser Kompas TV dan pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Budhi Kurniawan, Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, peneliti Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong.

Dewan juri memberikan penilaian terhadap proposal-proposal yang lolos verifikasi berdasarkan kekuatan tema, perspektif dan angle, narasumber, serta alur pemberitaan yang diturunkan dalam pertanyaan-pertanyaan kunci dan wishlist atau kebutuhan visual (untuk TV).

Berdasarkan keputusan dewan juri, Fellowship Liputan Keberagaman 2018 diberikan kepada: Hera Diani (Magdalene.co) dengan tema proposal Dampak negatif peningkatan Islamisasi di institusi-institusi pendidikan di Indonesia dan Bramantyo (Okezone.com) proposal Kemerdekaan 'Semu' Ketuk Palu Hakim untuk kategori online.

Kemudian Furqon Ulya Himawan (Media Indonesia) tema proposal Maraknya Perumahan Syariah di Yogyakarta dan Khoirul Muzakki (Tribun Jateng) tema Ketika Siswa Penghayat tidak Mendapat Tempat di Sekolah

Adapun untuk kategori radio diraih Zainudin Syafari (Global FM Lombok) dengan proposal liputan Potret Ahmadiyah Transito, Kelompok Pengungsi yang Haknya masih Dikebiri, dan Ardhi Rosyadi (Elshinta Semarang) Diskriminasi Hidup Mati Masyarakat Penghayat.

Sementara peraih TV hanya satu orang: Eka Rimawati (CNN Indonesia TV Biro Surabaya) dengan proposal bertema Penghayat, Menembus Batas Diskriminasi. Alasan yang hampir serupa menjadi pertimbangan Dewan Juri mengapa hanya satu yang mendapatkan fellowship. Dewan juri melihat bahwa proposal-proposal yang masuk masih belum mencapai kriteria liputan sebagaimana menjadi standar atau prinsip-prinsip jurnalisme keberagaman yang selama ini dikampanyekan Sejuk. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya