Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TANTANGAN yang tidak mudah di tengah kecenderungan meningkatnya intoleransi dan diskriminasi atas nama agama dari tahun ke tahun, mengharuskan adanya penghargaan yang tinggi bagi jurnalis yang secara khusus memproduksi pemberitaan-pemberitaan yang menyuarakan kelompok rentan.
"Diversity Award merupakan bentuk apresiasi atas karya-karya jurnalistik yang tidak sekadar memberitakan fakta, tetapi menunjukkan komitmen kepada semangat keragaman dengan menyuarakan secara tegas penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak warga negara dalam beragama dan mengekspresikan keyakinannya sesuai tuntunan konstitusi dan hak asasi manusia," papar Junaidi, Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Ahmad Junaidi, dalam acara Diversity Award 2018 di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Kamis (29/3) malam.
Untuk itu, dewan juri yang terdiri atas Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan, pendiri Sejuk Andy Budiman, novelis dan pendiri AJI Ayu Utami, pendiri Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh, serta Pemimpin Redaksi Rappler Indonesia Uni Lubis, akhirnya memutuskan karya jurnalistik yang tampil sebagai pemenang Diversity Award tahun ini.
Para pemenang itu ialah untuk kategori radio 'Asyuro Kota Semarang, Pembubaran tak Kunjung Usai' oleh Yuniar Kustanto, Elshinta Semarang, kemudian kategori TV 'Tragedi Bom Bali 1: Belajar Ikhlas dari Penyintas' oleh Muhammad Miftah Faridl, CNN Indonesia TV biro Surabaya, kategori online 'Program beasiswa LPDP dikritik soal tanya-jawab tentang agama, suku, dan gender' oleh Abraham Utama, BBC Indonesia, dan kategori foto 'Keberagaman (di lapangan bola)' oleh Miftahuddin Mustofa Halim, Radar Bali.
Sedangkan Diversity Award tahun ini tidak diberikan kepada kategori cetak. Alasannya, tim riset, tim seleksi awal, serta Dewan Juri tidak mendapatkan karya-karya jurnalistik cetak yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan Diversity Award 2018.
Sebagai rangkaian Diversity Award, Sejuk selalu menyertakan program bantuan terbatas kepada jurnalis di Indonesia untuk melakukan liputan isu keberagaman dengan bersetia pada konstitusi dan hak asasi manusia.
"Fellowship Liputan Keberagaman 2018 bertujuan untuk mendorong jurnalis dan media massa cetak, online, radio, dan televisi lebih memberi perhatian terhadap isu keberagaman agama dan kepercayaan, etnis, serta gender dan seksualitas dengan menggunakan kaca mata toleransi atau pluralisme dan hak asasi manusia," ungkap Junaidi yang sekaligus ikut mengambil peran sebagai Dewan Juri.
Selain Ahmad Junaidi, yang terlibat menjadi juri fellowship adalah produser Kompas TV dan pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Budhi Kurniawan, Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, peneliti Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong.
Dewan juri memberikan penilaian terhadap proposal-proposal yang lolos verifikasi berdasarkan kekuatan tema, perspektif dan angle, narasumber, serta alur pemberitaan yang diturunkan dalam pertanyaan-pertanyaan kunci dan wishlist atau kebutuhan visual (untuk TV).
Berdasarkan keputusan dewan juri, Fellowship Liputan Keberagaman 2018 diberikan kepada: Hera Diani (Magdalene.co) dengan tema proposal Dampak negatif peningkatan Islamisasi di institusi-institusi pendidikan di Indonesia dan Bramantyo (Okezone.com) proposal Kemerdekaan 'Semu' Ketuk Palu Hakim untuk kategori online.
Kemudian Furqon Ulya Himawan (Media Indonesia) tema proposal Maraknya Perumahan Syariah di Yogyakarta dan Khoirul Muzakki (Tribun Jateng) tema Ketika Siswa Penghayat tidak Mendapat Tempat di Sekolah untuk kategori cetak.
Adapun untuk kategori radio diraih Zainudin Syafari (Global FM Lombok) dengan proposal liputan Potret Ahmadiyah Transito, Kelompok Pengungsi yang Haknya masih Dikebiri, dan Ardhi Rosyadi (Elshinta Semarang) Diskriminasi Hidup Mati Masyarakat Penghayat.
Sementara peraih TV hanya satu orang: Eka Rimawati (CNN Indonesia TV Biro Surabaya) dengan proposal bertema Penghayat, Menembus Batas Diskriminasi. Alasan yang hampir serupa menjadi pertimbangan Dewan Juri mengapa hanya satu yang mendapatkan fellowship. Dewan juri melihat bahwa proposal-proposal yang masuk masih belum mencapai kriteria liputan sebagaimana menjadi standar atau prinsip-prinsip jurnalisme keberagaman yang selama ini dikampanyekan Sejuk. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved