Saatnya yang Muda Gaungkan Keberagaman

Dhika Kusuma Winata
27/3/2018 14:10
Saatnya yang Muda Gaungkan Keberagaman
(Ist)

AYU Alfiah Jonas, 21, sebelumnya tak pernah menyaksikan langsung bagaimana kehidupan penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Sebatas yang ia ketahui melalui diskusi-diskusi di kampus, para penganut Sunda Wiwitan mengalami diskriminasi sejak era Orde Baru.

"Kartu tanda penduduk mereka dipaksa masuk ke Islam pada zaman Presiden Suharto. Padahal mereka memiliki tradisi berbeda," kata mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu kepada Media Indonesia, Selasa (27/3).

November tahun lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan Putusan No 97/PUU-XIV/2016. Penganut aliran kepercayaan akhirnya memiliki kedudukan hukum sama dengan pemeluk enam agama yang diakui pemerintah, khususnya dalam memperoleh hak administrasi kependudukan.

Ayu berkesempatan berkunjung ke komunitas Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Ia mengaku terkesan dan terbuka wawasannya menyaksikan langsung kehidupan penganut salah satu kepercayaan tua yang ada di negeri ini.

"Sebelumnya saya kira mereka tidak luwes. Ternyata mereka sangat ramah dan kehidupannya sama seperti penganut agama-agama lain meski memang memiliki ritual berbeda," ungkapnya.

Ayu merupakan salah satu dari 55 muda-mudi dari berbagai daerah yang mengikuti kegiatan Peace Train Indonesia (PTI) 4, program kolaborasi dari Forum Bhinneka Nusantara, Wahid Foundation, Sekolah Damai Indonesia (Sekodi), Demokrasi.id, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Serikat Jurnalis untuk Kebebasan (Sejuk).

Akhir pekan lalu mereka mengunjungi rumah-rumah ibadah dari berbagai agama di Bandung. Antara lain Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Cu. Mereka juga berkesempatan mendatangi penganut Sunda Wiwitan di Cimahi.

Para peserta diberangkatkan dari Stasiun Gambir Jakarta menuju Bandung, Jumat (23/3), lalu kembali ke Jakarta, Minggu (25/3). Ke Jawa Barat, mereka berbagi pengalaman dan belajar mengenai kemajemukan kehidupan beragama.

"Peace Train Indonesia kami dedikasikan bagi anak muda dari berbagai agama untuk saling mengenal, berinteraksi dan berbagi pengalaman sembari belajar bagaimana berperan serta dalam membangun perdamaian di Tanah Air," kata Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Ahmad Nurcholish.

Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tingkat intoleransi tinggi, lanjut Ahmad, dipilih sebagai lokasi kegiatan dengan tujuan menguatkan jaringan komunitas lintas agama dan secara strategis diharapkan mampu menumbuhkan semangat perdamaian.

Bagi anak-anak muda ini, aksi-aksi intoleransi di sejumlah tempat yang sempat mencuat bukan sekadar isu lokal yang layak diacuhkan. Ancaman terhadap kemajemukan bangsa sejatinya juga menjadi tanggung jawab generasi muda. Mereka sepakat untuk terus menggaungkan kebinekaan.

"Kami merasa toleransi di negara ini mulai berkurang. Melalui kegiatan ini kami berharap sebagai kaum muda bisa menyebarkan terus rasa saling menghargai sesama umat beragama," ucap Eunike Kesaulya, 19, mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Teologia GKI IS Kijne, Papua, yang rela datang jauh dari timur mengikuti Peace Train.

Salah satu peserta asal Sulawesi Utara, Kristo Ivan Lumentut, 24, berbagi cerita mengenai keberagaman di daerahnya. Di Bukit Kasih Kanonang, Mihanasa, terdapat lima tempat ibadah agama berbeda, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

"Kita sebagai generasi muda jangan mudah terprovokasi dengan hoaks. Harus cek informasi. Kita justru harus menjadi motor penggerak perdamaian," kata putra Walikota Manado GS Vicky Lumentut itu.

Penggagas Peace Train, Frangky Tampubolon, mengatakan kaum muda menyimpan potensi besar sebagai penyebar pesan perdamaian. Tantangannya ialah di era serba digital saat ini, hoaks dan ujaran kebencian seolah tak pernah surut membanjiri dunia maya.

Terlebih, tahun pesta demokrasi seperti saat ini diperkirakan bakal dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menebarkan sentimen suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA) demi kepentingan politik sesaat yang potensial meregangkan rajut kebinekaan.

"Ini saatnya anak muda untuk membuat toleransi menjadi bising. Jangan hanya intoleransi saja yang bising. Toleransi diharapkan bisa menjadi gaya hidup anak-anak muda," pungkas Frangky. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya