Anggap Sepele Saraf Kejepit Berbahaya

Try/S-3
17/3/2015 00:00
Anggap Sepele Saraf Kejepit Berbahaya
(DOK MI)
NYERI tulang belakang, baik pada leher, pinggang, atau tulang belakang, merupakan kondisi yang umum terjadi.

Namun, secara umum hanya 10% yang disebabkan saraf kejepit.

Dari jumlah itu, hanya 1% yang membutuhkan penanganan dengan operasi.

Hal itu disampaikan konsultan bedah saraf Bunda Neuro Center RS Bunda Jakarta, Wawan Mulyawan, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, tidak semua pasien yang merasakan sakit pinggang dan nyeri pada tulang belakang mengalami syaraf kejepit.

"Bisa saja mereka habis kegiatan berat atau pegal-pegal karena olahraga. Mungkin diberi obat pereda nyeri lainnya, lalu istirahat, sakitnya sembuh. Belum tentu saraf kejepit," ungkapnya.

Ditambahkan Wawan, saraf kejepit merupakan kondisi ketika bantalan pada sendi tulang belakang menonjol ke luar lantaran pembungkusnya sobek.

Isi bantalan yang berupa gel padat keluar dan menjepit saraf.

"Di antara tulang pinggang manusia terdapat sendi yang membuat badan bisa lentur. Di dalam sendi terdapat semacam jeli berisi kadar air yang pada usia semakin tua, jeli itu akan mengeras, dan jeli itu dilapisi kapsul pembungkus. Jika sobek, isinya otomatis menjepit saraf," terangnya.

Saraf kejepit juga dapat menyerang bila terjadi penyempitan rongga tulang belakang.

"Itulah yang membuat nyeri. Keluhan paling banyak ada pada sakit pinggang."

Meski persentase penderita saraf kejepit hanya 1%, menurut dia, akibat yang ditimbulkan bisa membuat mereka mengalami cacat saraf seperti lumpuh, kehilangan kontrol terhadap kan-dung kemih, hingga impoten.

Itu lantaran tulang belakang yang terhubung pada bagian tubuh yang lain.

Adapun seseorang mulai bisa dicurigai mengalami saraf kejepit apabila rasa nyeri pada tulang belakang sering kambuh, serta mengalami rasa nyeri yang menjalar hingga ke kaki.

"Kalau suka kesemutan, atau mati rasa pada kaki, atau nyeri pinggang luar biasa, sebaiknya segera diperiksa. Jika masih tahap ringan, bisa diobati langsung tanpa operasi. Untuk mengetahui saraf kejepit atau bukan, tentu harus dirontgen, bila perlu MRI."

Yang patut diperhatikan, kata dia, setiap orang memiliki bakat mengalami saraf kejepit.

Penyakit itu tidak selalu menimpa orang-orang yang bekerja berat, tapi juga pekerja kantoran biasa yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer.

Ia pun menganjurkan olahraga sebagai salah satu cara untuk terhindar dari saraf kejepit.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya