Soal Gawai, Kemendikbud Minta Kepala Sekolah dan Guru Edukasi Siswa

Syarief Oebaidillah
05/3/2018 20:44
Soal Gawai, Kemendikbud Minta Kepala Sekolah dan Guru Edukasi Siswa
(Ist)

KEBERADAAN gawai amat penting bagi siswa Sekolah Menengah Atas sederajat dan tidak dapat dilepaskan dalam aktivitas sehari-hari. Namun, terpenting penggunaannya harus diawasi secara seksama. Dalam hal ini, peran kepala sekolah dan guru amat penting mengedukasi para siswanya agar pemanfaatan gawai berjalan baik, kreatif, dan inovatif, serta menihilkan hoaks yang marak.

"Ya, kita berharap para kepala sekolah dan guru jenjang SMA khususnya, dapat mengedukasi anak didik dengan memberi tugas tambahan melalui gawai secara positif. Bagaimana pun peran gawai sebagai alat komunikasi penting dan tidak bisa dilepaskan. Sebab, yang dipermasalahkan agar siswa kita tidak terpengaruh pemberitaan hoaks," kata Direktur Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Purwadi Sutanto, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (5/3).

Menurut Purwadi, pihak sekolah dapat mengedukasi siswa mengunakan perangkat lunak (software) yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Misalnya software yang dirancang pihak Direktorat Pembelajaran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang pemilihan jurusan atau program studi (prodi) melanjutkan pendidikan tinggi atau kuliah.

"Pada paparan penjelasan software Kemenristekdikti yang saya hadiri siswa diarahkan untuk mengenali dirinya sendiri sehingga dapat mengetahui tentang bakat dan minat dalam memilih jurusan yang sesuai kemampuan mereka," ungkapnya.

Software yang positif lainnya seperti laman ruang guru.com dan lain-lain yang menopang siswa memanfaatkan gawai secara baik.

Dalam kaitan ini, Purwadi berharap pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dapat menggerakkan anak-anak muda Indonesia yang kreatif menciptakan software yang kreatif memberi manfaat bagi peserta didik.

Dia mengingatkan, dalam pemanfaat gawai pihak sekolah harus dapat mendeteksi siswa secara baik. Menurut dia pihak sekolah tidak hanya bertugas untuk mengajar saja juga mendidik.

"Ketika ada tanda keresahan dalam penggunaan gawai oleh siswa, karena tidak jarang melalui gawai mereka meng-upload kabar negatif bahkan ada yang memicu tawuran sesama pelajar. Hal ini harus dicermati kepala sekolah dan guru dengan seksama," cetusnya.

Tidak kalah penting, lanjut Purwadi, dalam edukasi bergawai di lingkungan sekolah peran teman sebaya dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebaiknya juga diberdayakan dan dilibatkan bersama.

Guna menangkal hal negatif dalam bergawai, ia menyarankan perlu dilakukan penyisiran (sweeping) kepada siswa pengguna gawai. Hemat dia, jika siswa bergawai secara sehat tidak membuat konten hoaks, pornografi apalagi ujaran kebencian para siswa tidak perlu khawatir ketika dilakukan sweeping di sekolahnya.

"Kalau ada orangtua yang protes harus dijelaskan apa yang dilakukan sekolah masih terkait pembinaan pendidikan," pungkasnya.

Sementara itu, Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, saat dimintai konfirmasi kelanjutan rencana kerja sama tiga kementerian dalam pembatasan penggunaan gawai di lingkungan anak anak mengaku belum ada tindak lanjut.

"Belum ada pembahasan lebih detail," ungkap Hamid kepada Media Indonesia.

Seperti diberitakan, rencana pembatasan penggunaan gawai tersebut disepakati Kementerian Perlindungaan Dan Pemberdayaan Anak, Kemendikbud, dan Kemenkominfo. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya