Tegas Hentikan Kekerasan Siswa

Richaldo Y Hariandja
16/3/2015 00:00
Tegas Hentikan Kekerasan Siswa
(MI/CAKSONO)
DEWAN Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Doni Koesoema berharap ada sinergi antara guru, orangtua, birokrasi, serta penegak hukum dalam menanggulangi kekerasan di sekolah.

Doni mengutarakan hasil riset lembaga swadaya masyarakat (LSM) Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) menemukan 7 dari 10 anak di Indonesia terkena tindak kekerasan di sekolah. Karena itu, Doni menilai Indonesia memiliki kondisi darurat dan dibutuhkan sebuah tindakan yang komprehensif dalam mengatasi tindak kekerasan di sekolah.

Data itu juga menyebutkan perempuan lebih rentan mengalami kekerasan, terlebih lagi kekerasan yang dialami oleh perempuan cenderung berasal dari dua sisi.

"Kalau laki-laki biasanya diberlakukan secara kasar oleh laki-laki. Namun, kalau perempuan, baik dari laki-laki maupun perempuan akan menjadi pelaku kekerasan terhadap mereka," ucap Doni ketika dihubungi, kemarin.

Menurut dia, sejumlah aksi kekerasan belum ada tindakan tegas dari pihak sekolah terhadap para pelaku.

"Makanya tindak kekerasan semakin meningkat dan belum ada efek jera dari pelaku kekerasan di sekolah."

Karena itu, Doni menyayangkan tindakan sejumlah orangtua siswa pelaku kekerasan di SMAN 3 Jakarta yang melaporkan kepala SMA itu, Retno Listiyarti, ke polisi. Retno pada 14 Februari lalu dilaporkan ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan diskriminasi terhadap anak mereka.

Menurut Doni, belum ada pengertian yang baik dari orangtua terkait tindak kekerasan di sekolah.

"Kok diskriminasi? Itu kan keputusan dewan sekolah. Kalau permasalahannya hanya anaknya mendapat sanksi yang lebih berat, lihat kembali tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak itu," ucapnya.

Bahkan, ia juga menyayangkan tindakan kepala dinas pendidikan yang menghukum Retno Listriyarti.

"Seharusnya tidak ada intervensi seperti itu. Pekerjaan kami selaku pengajar sebenarnya dilindungi oleh undang-undang," tambah Doni.

Angka tertinggi

Hasil riset Plan International dan ICRW menyebutkan 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka itu lebih tinggi dari tren di kawasan Asia, yaitu 70%.

Riset dilakukan pada Oktober 2013 hingga Maret 2014, di Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia.

Riset di Indonesia melibatkan 9.000 orang, yang terdiri dari siswa berusia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orangtua dan perwakilan LSM.

Survei itu menyebutkan, Pakistan merupakan negara dengan angka kekerasan di sekolah yang paling rendah di kawasan Asia, yaitu 43%.

Selain itu, disebutkan juga 51% siswa Indonesia mengaku pernah menyaksikan tindakan kekerasan di sekolah.

Mayoritas siswa tidak melaporkan aksi kekerasan di sekolah karena minimnya mekanisme respons yang terstruktur dan menyeluruh.

Para guru dan orangtua yang disurvei mengakui anak-anak cenderung tidak akan meng-adukan kekerasan di sekolah karena khawatir akan menjadi pihak yang disalahkan. Tindak-an itu juga karena para pelaku kekerasan ialah guru atau staf nonguru dan sesama pelajar di sekolah yang sama. (H-1)
richaldo @mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya