Harga Beras Berangsur Turun

Ferdinand
19/2/2018 06:38
Harga Beras Berangsur Turun
(ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

HARGA beras di sejumlah daerah mulai turun menyusul datangnya masa panen. Namun, hujan berkepanjangan membuat proses penggilingan gabah membutuhkan waktu lebih lama.

Di Pasar Gede, Surakarta, Jawa Tengah, misalnya, harga beras kualitas premium yang sebelumnya mencapai Rp14 ribu per kilogram kemarin terpantau turun menjadi Rp13.400 per kilogram. Harga beras kualitas medium juga turun dari Rp12 ribu/kg menjadi Rp11 ribu/kg.

"Sekarang pasokan juga sudah kembali lancar dan meningkat," kata Wiwid, salah satu pedagang beras di pasar yang menjadi barometer harga komoditas pangan di Kota Surakarta itu.

Wiwid mengaku mendapat pasokan dari Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo yang sudah mulai memasuki musim panen.

Sri Hastuti, pemilik penggilingan padi di Sukoharjo, membenarkan hal itu. Menurutnya, bila dibandingkan dengan Desember-Januari lalu, pasokan gabah saat ini meningkat hampir 50%.

Pedagang di sekitar Pasar Si-ngosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, juga telah menurunkan harga beras. Harga beras medium di tingkat pengecer, misalnya, turun dari rata-rata Rp12 ribu/kg menjadi Rp11.800/kg.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pemkab Malang Agus Priyanto menyebut gejolak harga beras mulai teratasi setelah diperoleh tambahan produksi melalui panen di sejumlah kecamatan. Agar stok tetap aman, solusinya dengan membangun lumbung pangan.

"Lumbung pangan sekarang hanya ada 45 lokasi. Jumlah itu kurang ideal sebab Kabupaten Malang memiliki 378 desa dan 12 kelurahan. Kalau bisa, kita membangun 10 lumbung per tahun," ujar Agus.

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, harga beras medium di Pasar Kasih, Kelurahan Naikoten 1, dijual antara Rp10 ribu/kg dan Rp11 ribu/kg.

Kepala Divisi Regional Bulog NTT Efdal Sulaiman mengatakan operasi pasar kini masih terus berlangsung untuk mengantisipasi kenaikan harga beras.

Sementara itu, Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta Zulkifli Rasyid mengungkapkan satu-satunya faktor yang bisa menurunkan harga beras ialah masuknya pasokan dalam jumlah besar dari daerah-daerah yang telah mengalami panen.

"Beras impor tidak apa-apa kalau tidak langsung masuk pasar asal pasokan dari daerah segera masuk ke pasar," ujar Zulkifli.

Kendala cuaca

Faktor cuaca, yakni musim hujan, membuat proses pengeringan gabah menjadi lebih lama. Sri Hastuti menjelaskan, dari biasanya 1-2 hari, kini gabah baru kering setelah dijemur hingga empat hari.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso. Menurut dia, proses penggilingan gabah yang terhambat hujan membuat beras tidak bisa langsung didistribusikan ke pasar.

"Kalau ada yang sudah bisa digiling, itu untuk mengisi pasar setempat. Jadi, bukan panen hari ini kemudian besoknya bisa langsung digiling," ungkap Sutarto.

Pasokan, imbuh dia, umumnya juga masih memakai gabah atau beras sisa panen lalu.(Pra/Try/LD/BN/PO/AD/BB/RS/UL/RF/JS/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya