Kemampuan Menyelam Orang Bajo Diteliti

Dhk/H-2
17/2/2018 09:11
Kemampuan Menyelam Orang Bajo Diteliti
(MI/Panca Syurkani)

KEMAMPUAN suku Bajo menyelam di dalam laut tanpa alat bantu masih menjadi misteri. Mereka bahkan mampu menyelam selama puluhan menit tanpa bantuan tabung oksigen untuk pernapasan seperti umumnya penyelam.

Komunitas berbahasa Bajau Sama yang hinga kini masih tersebar di wilayah timur Indonesia dan selatan Filipina itu diketahui sudah lekat dengan pengetahuan melaut. Kecakapan itu diperoleh secara turun-temurun.

Penelitian DNA diyakini bisa mengungkap asal usul keterampilan menyelam yang dimiliki masyarakat Bajo atau juga disebut manusia perahu itu.

Berdasarkan riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Biologi Molekuker Eijkman Pradiptajati Kusuma bersama timnya yang terbit di European Journal of Human Genetics tahun lalu diketahui orang Bajo nyatanya memiliki leluhur yang sama dengan orang Bugis. Sebelumnya, orang Bajo diyakini berasal dari negara tetangga Indonesia, Filipina.

"Orang Bajo bisa menyelam begitu lama dan melihat di dalam air dengan jelas tanpa bantuan kacamata selam. Riset tentang adaptasi suku Bajau itu sedang kami lakukan analisis," kata Pradiptajati di Jakarta, baru-baru ini.

Suku Bajo diketahui merupakan komunitas nomaden yang hidupnya lekat dengan laut sehingga mendapat julukan gipsi laut. Menurut Pradiptajati, orang Bajo memiliki pengalaman panjang yang amat maju dalam hal menyelam. Keahlian itu bisa dilacak dengan melihat jejak adaptasi pada gen, khususnya gen yang berhubungan dengan fungsi mata dan paru-paru.

Riset tersebut melanjutkan studi asal usul orang Bajo sebelumnya dengan menggunakan analisis DNA dari sampel komunitas Bajo di Kotabaru, Kalimantan Selatan; Derawan, Kalimantan Timur; dan Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Secara genetika kita bisa melihatnya. Gen yang paling bertanggung jawab untuk karakteristik dan kemampuan (hidup) tertentu. Kita akan melihat pola khusus yang ada pada orang Bajo. Itu juga dikaitkan dengan gaya hidup mereka sehingga diketahui adaptasi genetiknya," kata doktor lulusan Universitas Toulouse, Prancis, itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya