Benahi Puskesmas Solusi Atasi Defisit Jaminan Kesehatan Nasional

Dhk/I-4
28/1/2018 14:24
Benahi Puskesmas Solusi Atasi Defisit Jaminan Kesehatan Nasional
(Ascobat Gani -- DOk MI)

UNTUK merevitalisasi peran pelayanan kesehatan primer, puskesmas diminta tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga menjaga kesehatan wilayah.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Ascobat Gani dalam diskusi yang digelar Indonesia Healthcare Forum, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, langkah itu merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif terkait dengan kesehatan masyarakat. Ascobat menegaskan hal itu perlu terus dilakukan untuk menjamin keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang saban tahun mengalami defisit pembiayaan.

Guru Besar UI itu menilai penguatan puskesmas wajib dilaksanakan bila pemerintah ingin meningkatkan upaya pencegahan penyakit. Di era JKN, lanjutnya, puskesmas hanya berkutat pada pelayanan untuk pengobatan. Padahal, puskesmas memiliki peran penting dalam hal mengurangi risiko penyakit dengan cara menjaga kesehatan wilayah.

Opsi yang dapat dilakukan di antaranya memperluas promosi perilaku sehat, menjaga higienitas lingkungan, serta pengawasan dan deteksi dini penyakit. "Dulu puskesmas dirancang untuk menyehatkan wilayah. Sekarang puskesmas menjadi pintu pelayanan pertama untuk pemegang BPJS Kesehatan. Memang mengobati orang sangat penting, tapi itu tidak cukup kalau wilayahnya tidak dibenahi," cetusnya.

Ia memaparkan beragam jenis pembiayaan pengobatan oleh BPJS yang bisa ditekan. Penyakit akibat infeksi, misalnya, BPJS menggelontorkan dana sekitar Rp4,16 triliun.

Padahal, sambungnya, pengeluaran itu bisa ditekan jika pencegahan melalui imunisasi sukses. Menurut kalkulasi, jika upaya promotif dan preventif sukses, itu bisa menghemat 46% pembiayaan pengobatan yang dicairkan BPJS.

"Kalau mau mereformasi kesehatan primer, kembalikan fungsi-fungsi puskesmas seperti dulu. Kalau tidak, nanti lama-lama BPJS bisa bangkrut," terangnya.

Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan Saraswati dalam kesempatan sama mengatakan promotif dan preventif yang semula berorientasi pada pasien harus digeser berorientasi pada komunitas.(Dhk/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya