Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK mengantisipasi meluasnya wabah campak di kalangan anak-anak di Kabupaten Asmat, tim kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan TNI/Polri menggencarkan imunisasi terhadap sekitar 1.400 anak di 20 distrik dari total 23 distrik yang ada di Asmat.
"Selain imunisasi, kami juga memberikan vitamin A dan asupan makanan tambahan kepada anak-anak penderita gizi buruk. Tim kesehatan gelombang kedua akan menyasar tiga distrik tersisa, yakni Suru-Suru, Pulau Tiga, dan Kolf Braza. Sekarang posisinya sudah di lapangan," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Usman Sumantri, kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin. Untuk mempercepat penanganan wabah campak, lanjut Usman, pihaknya juga merekrut tenaga kesehatan yang kelak tidak hanya bertugas di Asmat, tetapi juga di wilayah Provinsi Papua lain.
"Ke depan penanganan dan pencegahan wabah campak dan gizi buruk di Papua harus dilakukan berkelanjutan. Akan kami siapkan SDM melalui dua cara, yakni daerah memenuhi dan pusat juga memenuhi. Untuk wilayah terpencil akan diintervensi pusat. Jumlahnya mencapai ribuan tenaga kesehatan untuk Papua," ujar Usman.
Usman menambahkan kini para penderita gizi buruk dan wabah campak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, sudah berangsur-angsur membaik. Pada Jumat (26/1), Kemenkes sudah menerjunkan tim pelayanan kesehatan gelombang kedua yang bakal bertugas selama 10 hari ke depan.
"Kemenkes mengirimkan 36 tenaga dan TNI ada sekitar 56 dokter umum. Kami siapkan sembilan gelombang selama tiga bulan. Timnya juga berganti terus agar tidak kelelahan," ungkap Usman.
Juru bicara Kemenkes Oscar Primadi menambahkan pasien di RSUD Agats, Asmat, kemarin, berjumlah 87 orang. Sebanyak 80 pasien menderita gizi buruk dan 7 pasien menderita campak. Sementara itu, Mabes TNI akhir pekan lalu kembali mengerahkan tim kesehatan ke Kabupaten Asmat untuk ikut membantu mengobati masyarakat yang terserang penyakit campak dan gizi buruk.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel M Aidi di Jayapura mengatakan tim kesehatan tentara itu berjumlah 54 orang, terdiri atas 5 dokter spesialis, 13 dokter umum, 2 dokter gigi, dan sisanya perawat yang akan bertugas selama sekitar sembilan bulan hingga satu tahun.
Minim fasilitas
Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Siwanus Sumule, menyatakan kasus gizi buruk dan wabah campak yang menyebabkan kematian 69 anak di Distrik Agats mempunyai pola yang sama dengan daerah lain sejak tiga tahun silam.
"Setidaknya ada tujuh daerah yang mengalami gizi buruk di antaranya Mbua, Deiyai, Nduga, Lanny Jaya, dan Pegunungan Bintang. Penyebab kematian bayi karena tidak mendapatkan imunisasi, terutama di daerah terisolasi. Warga melapor ke gereja karena tidak ada petugas kesehatan di lokasi. Selain fasilitas kesehatan minim, jarak kampung ke pusat kesehatan sangat jauh," ungkap Siwanus, kemarin.
Dinas Kesehatan Papua dalam beberapa tahun terakhir juga meluncurkan program pelayanan kesehatan kaki telanjang untuk menjangkau warga masyarakat yang bermukim di pegunungan dan peladang yang berpindah-pindah. (MC/Ant/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved