Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 3,8% anak balita di Tanah Air menderita gizi buruk dan 14% lainnya mengalamai gizi kurang.
Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengungkapkan hal itu saat peringatan Hari Gizi Nasional di Jakarta, kemarin. Anung mengutip hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang menjangkau 171.000 anak.
"Estimasi balita pada 2017 sebanyak 23,8 juta. Bisa ditarik kesimpulan dari hasil PSG berarti 3,8% atau 906.000 anak masih menderita gizi buruk dan 14% atau 3,3 juta anak menderita gizi kurang,"ujarnya.
Menurut dia, persoalan gizi buruk itu bukan saja disebabkan ketidakmampuan masyarakat mengakses makanan, melainkan juga ketidaktahuan memilih, mengolah, dan menyajikan pangan yang ada untuk dijadikan sumber makanan bergizi. "Pengetahuan masyarakat mengenai gizi perlu ditingkatkan," ujarnya.
Anung mengatakan masyarakat membutuhkan pelayanan konseling mengenai pentingnya pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif dan praktik-praktik pemberian makan serta pola asuh bayi dan anak yang tepat agar kebutuhan gizinya tercapai. Selain itu, pengetahuan orangtua memberikan makanan yang tepat bagi anak-anak mereka perlu ditingkatkan.
Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Minarto mengatakan, dengan adanya data anak dengan gizi buruk dan kurang gizi, intervensi lebih mudah dilakukan, yakni memetakan daerah-daerah dengan status gizi rendah. Data tersebut, ujarnya, dapat ditambah dengan data pangan dan data penunjang lainnya.
Diakuinya masalah gizi tidak hanya ada pada masyarakat kelas ekonomi kurang. Sebab, kasus kurang gizi kronik juga ditemukan pada golongan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Itu disebabkan minimnya faktor pengetahuan tentang gizi yang erat kaitannya dengan pola asuh.
"Itu pentingnya mendorong kemandirian keluarga melalui konseling gizi," ujarnya.
Menteri Kesehatan Nila Moeloek, ketika berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua, kemarin, mengatakan tim kesehatan terpadu terus menyisir keberadaan para pasien campak dan gizi buruk di berbagai kampung dan permukiman di Kabupaten Asmat.
Nila mengatakan tim kesehatan terpadu sudah menjangkau 20 distrik (kecamatan) dari 23 distrik yang ada di Kabupaten Asmat. "Dari 23 distrik yang ada di Asmat, 20 distrik sudah disisir. Jumlah pasien sekarang mulai berkurang. Memang masih ada pasien yang dirawat di RSUD Asmat dan di gereja," katanya.
Nila meyakini kekurangan gizi yang dialami anak-anak dan balita di Asmat memicu munculnya kejadian luar biasa (KLB) campak dan penyakit lain, seperti peneumonia, Tb, cacingan, dan malaria.(Ind/Ant/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved