Ketika Gempa Konstruksi Bangunan yang Harus Diwaspadai

23/1/2018 21:32
Ketika Gempa Konstruksi Bangunan yang Harus Diwaspadai
(ANTARA)

GEMPA bumi berkekuatan 6,1 SR dengan pusat gempa di laut berjarak 43 km barat daya Kabupaten Lebak, Banten pada Selasa (23/1) pukul 13.34 WIB, membuat 479 rumah rusak.

Kerusakan bangunan itu terdapat di wilayah Banten dan Jawa Barat. Sebagian besar kerusakan rumah dan bangunan akibat minimnya konstruksi menahan gempa. Konstruksi bangunan tahan gempa adalah kebutuhan yang mutlak di wilayah Indonesia khusus di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Namun kenyataannya masih sangat minim rumah dan bangunan yang dibangun secara khusus mampu menahan gempa.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (23/1), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, terjadinya gempa kerap diikuti kerusakan bangunan dan korban jiwa.

Seperti dampak gempa 6,9 SR pada 15 Desember 2017 menyebabkan 4 orang tewas dan 36 luka, 8.860 rumah rusak (1.160 rusak berat, 1.950 rusak sedang, 5.750 rusak ringan), 99 sekolah rusak, 67 tempat ibadah dan lainnya.

Kerugian dan kerusakan akibat gempa mencapai Rp250,76 miliar, di mana Rp228,62 miliar merupakan kerusakan dan kerugian di sektor permukiman. Untuk memulihkan memerlukan anggaran Rp152,5 miliar.

Sutopo menjelaskan, korban jiwa bukan karena gempanya tapi karena bangunanya. Bangunan yang tidak kuat lalu roboh dan menimpa penghuninya. Gempa adalah keniscayaan. Dalam setahun rata-rata kejadian gempa di Indonesia mencapai 6.000 kali.

Begitu juga gempa di selatan Jawa yang merupakan zona sepi gempa besar. Zona selatan Jawa khususnya dari segmen Pangandaran hingga Pacitan dan Banyuwangi, adalah zona seismic gap.

Lempeng Indo Australia dan Eurasia di selatan Jawa ini aktif bergerak rata-rata dengan kecepatan 6,6 cm per tahun. Ratusan tahun tanpa gempa besar sehingga energinya terkunci. Artinya ada potensi yang besar. Suatu saat bisa lepas energinya menjadi gempa dan membangkitkan tsunami. Kapan? Kita tidak tahu pasti.

Untuk itu perlu meningkatkan kewaspadaan. Persiapan dan mitigasi menghadapi gempa harus ditingkatkan. Tata ruang, building code, kesiapsiagaan, dan lainnya harus ditingkatkan agar kita tidak selalu siap menghadapi kondisi yang terburuk.

Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti. Iptek belum mampu memprediksi secara pasti kapan, di mana dan berapa besar gempa akan terjadi. Oleh karena itu jika menerima informasi akan terjadi gempa bahkan dengan spesifik mengatakan besar, waktu dan lokasi itu adalah hoax. Jadi jangan ikut-ikutan menyebarkan hoaks ini di media-media sosial. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya