Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
STUNTING, kondisi kekurangan gizi dalam waktu lama pada anak, tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi gizi anak sejak balita hingga remaja.
Menurut ahli gizi Atmarita kondisi konsepsi seorang perempuan juga ikut mempengaruhi pertumbuhan seseorang.
"Jadi masa emas dan kritis stunting dimulai dari masa konsepsi. Jika seorang perempuam dalam kondisi optimal saat konsepsi tentu anak yang dilahirkan akan sehat," kata Amarita di focus discussion group (FGD) jurnalis yang diselenggarakan IMA World Health, dan didukung MCA-Indonesia di Jakarta, Selasa (23/1).
FGD ini mengangkat tema mewujudkan kemandirian keluarga dalam pemenuhan gizi balita di 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting. FGD diselenggarakan menjelang peringatan hari gizi nasional 2018 yang diperingati setiap 25 Januari.
Menurut Atmarita, untuk memastikan bahwa seorang perempuan dalam kondisi konsepsi optimal, maka pemeriksaan saat kehamilan trisemester pertama, harus segera pergi ke layanam kesehatan. Ini penting karena pada 20 minggu pertama kehamilan terjadi proses tumbuh kembang otak dan fisik.
"Cikal bakal stanting bakal terlihat saat lahir hingga 18 tahun, maka pada saat konsepsi tidak boleh ada masalah. Karena jika ada masalah dampaknya panjang," lanjut Ketua Bidang Ilmiah DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dalam siaran persnya di Jakarta.
Atmarita mengingatkan, selain memastikan asupan gizi saat kehamilan, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pemberian ASI ekslusif. Dan ASI ini terbentuk sejak masa konsepsi.
Diakui Atmarita, persoalan gizi di Indonesia cukup serius. Karena berdasarkan data saat ini, hanya ada 7 kota di Indonesia yang memiliki persoalan gizi kurang dari 20%, yakni Kabupaten Wakatobi, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Salatiga, Klungkung, Bitung dan Tana Todung.
"Jadi cukup berat masalah gizi dan stunting yang dihadapi Indonesia," ujarnya.
Atmarita melanjutkan, faktor lain yang mempengaruhi jumlah kasus stunting adalah pernikahan dan melahirkan di usia muda. Ia menyebutkan, perempuan yang melahirkan pada rentang usia 16-19 tahun, prevalensi menghasilkan anak stanting sekitar 42,8%. Dan melahirkan pada rentang usia 20-24 tahun memiliki peluang 37,1% melahirlan anak dengan stunting.
Anggapan bahwa stunting adalah faktor genetik atau keturunan, menurut Amrita tidaklah benar. Karena hanya sekitar 5%-10% faktor genetika berperan dalam pembentukan fisik anak.
"Lihat saja orang Jepang. Dulu mereka kecil dan pendek. Tetapi dengan intervensi gizi yang baik, sekarang mereka tinggi," tukasnya.
Secara terpisah, Galopong Sianturi SKM MPH, Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi Kementrian Kesehatan mengatakan, problem mendasar terkait gizi yang bisa mempengaruhi angka stunting, sebagian besar justru perilaku masyarakat. Masyarakat perlu disosialisasikan tentang pemenuhan gizi.
“Bayangkan saja, mereka mampu memberi ponsel bagus, namun ada yang anaknya stunting atau kurang gizi. Kecuali bagi masyarakat yang memang kemampuan ekonominya rendah, mereka memang tidak ada pilihan, dan untuk ini pemerintah sudah mempunyai program khusus,” ujarnya.
Sianturi juga menegaskankan, problem gizi di Indonesia memang masih terlihat terutama di daerah yang masih terbelakang dan akses ke daerahnya cukup sulit. "Daerah-daerah seperti inilah yang perlu penanganan khusus," ujarnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved