Masih Dianggap Pengganggu, Orang Utan Makin Terdesak

Ardi Teristi
20/1/2018 14:53
Masih Dianggap Pengganggu, Orang Utan Makin Terdesak
(ANTARA/Syifa Yulinnas)

DITEMUKANNYA orang utan yang mati mengambang tanpa kepala di Kabupaten Buntok, Kalimantan Tengah, belum lama ini, patut disayangkan. Orang utan masih dianggap pengganggu oleh masyrakat di sekitar hutan sehingga sering dibunuh dan diburu. Keberadaan mereka pun semakin terdesak.

Padahal orang utan merupakan salah satu dari empat hewan kera besar yang hidup di benua Asia. Namun saat ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal tersebut dikemukakan Mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Biologi Ike Nurjuita Nayasilanan, dalam diseminasi hasil penelitiannya tentang adaptasi orang utan di hutan lindung setelah dilepas dari pusat rehabilitasi, Jumat (19/1) di Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.

Berdasarkan estimasi terakhir, sekitar 14.470 orang utan masih tersisa di Sumatera dan 57.350 orang utan di Kalimantan. Populasi mereka makin berkurang akibat habitatnya berganti karena konversi lahan untuk sawit dan tambang, perburuan dan perdagangan liar.

Ia mengemukakan orang utan memiliki perilaku suka hidup di daerah dataran rendah. Kesukaannya yang mencari makan di dataran rendah menyebabkan sering berhadapan dengan manusia.

"Orang utan dan manusia sama-sama senang hidup di dataran rendah. Di Kalimantan itu mereka terfragmentasi karena di sana dataran tinggi hanya 700-800 mdpl. Bahkan di Sumatera, sekitar 75% (orang utan)hidup berada di luar kawasan konservasi," lanjut Ike seperti dikutip dalam siaran pers dari Humas UGM.

Ike menilai kesukaan orang utan yang hidup di dataran rendahlah yang menyebabkan populasi mereka terus menyusut. Apalagi satwa yang dilindungi ini juga suka mengonsumsi pakan berupa buah-buahan, daun, rotan dan serangga.

"Orang utan memang mengeksplorasi habitat alaminya. Namun pergerakan mereka mengikuti sebaran pohon sarang dan pohon pakan," tambah Ike.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, kata Ike, kemungkinan orang utan awalnya hanya satu spesies. Namun saat ini ditemukan dua spesies di Sumatera (Pongo Tapanuliensis) dan orang utan Sumatra (Pongo Abelii).

Selain itu, ada satu spesies lagi orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) yang ada di Kalimantan.

Munculnya dua spesies orang utan di Sumatera, lanjut Ike, besar dugaan akibat perubahan genetik akibat letusan Gunung Toba. "Dugaan awal karena adanya Gunung Toba meletus sehingga ada barrier dari letusan itu," tandasnya.

Ike manambahkan dahulunya orang utan juga terdapat di Jawa, terbukti dengan ditemukannya fosil orang utan di Pacitan. Namun kepunahan orang utan di Jawa menurut dugaan Ike disebabkan konversi lahan akibat populasi manusia.

Dari penelitian Ike terhadap 16 orang utan yang dilepas ke bukit Batikap diketahui, orang utan memiliki umur rata-rata yang hampir sama dengan manusia yakni 60-65 tahun. Bahkan ada yang berumur sampai 70 tahun. Namun orang utan yang tinggal di hutan rata-rata hanya berumur 55 tahun.

Selama umur 0-8 tahun orang utan menyusui dengan induknya. Hingga menjelang remaja (12 tahun), biasanya orang utan masih mengikuti sang induk. Orang utan jantan dewasa suka menjelajah hutan bertahun-tahun lamanya, namun setelah tua akan pulang ke habitat awalnya.

"Bisa dibilang pulang kampung," katanya. Orang utan umumnya melakukan aktivitas sejak matahari terbit hingga menjelang matahari terbenam. Mereka sering memakan buah-buahan, dedaunan, rotan, madu, dan minum air dari batang pohon.

"Saat kita teliti di hutan, ada yang unik. Orang utan betina suka menggunakan stik saat makan serangga. Ini yang kita temukan di Bukit Batikap," pungkas Ike. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya