Lautan di Bulan Jupiter Peluang Hunian Baru

AFP/Wey/X-5
14/3/2015 00:00
Lautan di Bulan Jupiter Peluang Hunian Baru
(MI/CAKSONO)
SEJAK tiba di orbit Planet Jupiter pada 1995, pesawat antariksa NASA, Galileo, telah mendeteksi kemungkinan adanya medan magnet di Ganymede, yakni bulan terbesar Jupiter.

Kemungkinan adanya medan magnet berarti pula kemungkinan adanya samudra bawah tanah di Ganymede, sekaligus memperluas peluang dalam pencarian planet baru yang bisa dihuni.

Kini, perkiraan itu terbukti lewat temuan teleskop antariksa Hubble.

"Sejak 1970-an memang beredar spekulasi yang memperkirakan ada lautan bawah tanah di Ganymede. Sekarang, itu sudah dipastikan," kata Joachim Saur dari Universitas Cologne, Jerman, Kamis (12/3).

Saur bersama timnya melakukan penelitian untuk mencari tahu apa yang ada di balik permukaan Ganymede dengan menggunakan teleskop antariksa Hubble.

Menurut Saur, temuan terbaru teleskop Hubble itu merupakan bukti terbaik yang menunjukkan keberadaan lautan di Ganymede.

Ia menjelaskan, lewat teleskop Hubble, terlihat perubahan aurora di kutub utara dan selatan Ganymede. Aurora, menurut definisi NASA, merupakan 'gas berbentuk pita-pita yang berpendar dan mengandung listrik'.

Aurora itu dikendalikan medan magnet bulan atau planet.

Perubahan yang terlihat pada aurora menunjukkan apa yang ada di balik permukaan sebuah planet atau bulan.

Peneliti menyingkap medan magnet Jupiter berinteraksi dengan medan magnet Ganymede.

Interaksi itu menyebabkan aurora terlihat bergerak berayun-ayun.

Lewat teleskop Hubble, gerakan aurora berayun itu terlihat berubah-ubah.

Peneliti menyimpulkan perubahan gerakan aurora terlihat berkurang dan itu disebabkan friksi magnetik yang ditimbulkan adanya lautan air asin di bawah permukaan Ganymede.

Peneliti juga dapat memperkirakan lautan itu 10 kali lebih dalam ketimbang samudra di Bumi.

Posisinya pun berada di bawah lapisan permukaan es yang tebalnya mencapai 150 km.

"Tentang temperatur airnya, kami baru menyingkap bahwa airnya cukup hangat sehingga wujudnya tetap cair," lanjut Saur.

Sebelum temuan itu, para pakar sudah mengetahui ada samudra pula di bawah permukaan Europa, bulan lain Jupiter, dan Enceladus, bulan Planet Saturnus.

Heidi Hammel, Wakil Presiden Eksekutif Asosiasi Universitas Riset Astronomi, menyoroti peran teleskop antariksa sebagai alat yang penting untuk menyingkap bagian dalam sebuah bulan.

"Semua misi yang dikirim ke berbagai tempat di sistem tata surya kita selama ini membawa kita lebih dekat lagi untuk menemukan tempat selain Bumi yang bisa dihuni manusia," kata Hammel.

Misi penelitian ke Jupiter selanjutnya ialah misi Badan Antariksa Eropa yang dinamai Jupiter's Icy Moons Explorer (Juice).

Ia dijadwalkan meluncur ke antariksa pada 2022 dan diperkirakan tiba di Jupiter pada 2030.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya