Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH memberikan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bidang kesehatan kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof dr Ali Ghufron Mukti PhD, Coventry University Inggris kembali melanjutkan hubungan baik dengan Indonesia.
Sebagai bentuk tindak lanjut pengakuan keahlian Ghufron tersebut, Coventry University menyiapkan dua beasiswa pascasarjana senilai 10 ribu Poudsterling bagi mahasiswa berprestasi di Tanah Air.
Dalam kaitan ini, Ali Ghufron Mukti dan Coventry University bersepakat memberi nama beasiswa ini 'Coventry University (CU)–Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Scholarship'.
Ghufron, panggilan akrab mantan Wakil Menteri Kesehatan ini, menjelaskan, yang membedakan CU–SDID Scholarship dengan beasiswa studi lainnya ialah calon penerima harus dari kalangan tidak mampu secara ekonomi. Meski begitu, kualifikasi akademik tetap diperhatikan. Tak main-main, persyaratan IPK calon pendaftar minimal 3,50.
"Di samping untuk mahasiswa kurang mampu dan harus memenuhi IPK minimal yang ditentukan, calon penerima beasiswa juga harus menguasai Bahasa Inggris. Nilai minimal IELTS 6,5 atau TOEFL minimal 550. Sedangkan bidangnya karena ini tindak lanjut dari pemberian gelar Honoris Causa beberapa waktu lalu, maka satu penerima untuk bidang kesehatan, satu penerima lagi bebas," ungkap Ghufron di Kantor Kemenristekdikti Jakarta, Jumat (5/1).
Ditambahkan. CU–SDID Scholarship dibuka untuk studi S-2 di Inggris tahun ini tanpa ada batasan usia untuk para penerimanya.
Kendati demikian, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengungkapkan, tak mudah mencari kandidat yang sesuai persyaratan, terutama terkait kemampuan Bahasa Inggris. Oleh sebab itu, jika ada kandidat yang potensial namun terkendala persyaratan kemampuan bahasa asing, pihaknya akan memfasilitasi kursus bahasa Inggris melalui bridging program.
"Mulai studi kira-kira September, sehingga jika pada Maret atau April sudah ada calon penerima yang sesuai kriteria mereka dapat mengikuti kursus penguatan Bahasa Inggris selama kurang lebih tiga bulan. Mungkin penerima Bidik Misi atau AdiK Papua bisa berkesempatan mengikuti beasiswa ini, tetapi bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta juga terbuka jika memang dari kalangan kurang mampu dan memenuhi syarat," cetusnya.
Pemberian beasiswa pascasarjana melalui CU–SDID Scholarship, diakui Ghufron, memberi harapan baru pada peningkatan jumlah pakar bidang jaminan kesehatan.
Sebagai salah satu tokoh yang berperan mengembangkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Indonesia, Ghufron ingin lulusan beasiswa ini ikut berperan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi BPJS dalam memberikan layanan kesehatan di masa mendatang. Sehingga, para penerima diminta untuk kembali ke Tanah Air ketika sudah menuntaskan studinya.
Lebih lanjut, Ghufron berharap setelah lulus para penerima CU–SDID Scholarship mampu berkontribusi tidak hanya di lingkup Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional, seperti membuat draf Sustainable Development Goals (SDGs) atau berkiprah di World Health Organization (WHO).
"Kami juga akan mengupayakan menyediakan 9-10 beasiswa PhD di Inggris. Selain itu, juga terdapat sejumlah beasiswa yang masih on going, seperti dari AMINEF, beasiswa PMDSU, serta beasiswa untuk dosen di perguruan tinggi negeri baru (PTNB)," paparanya.
Executive Dean of the Faculty of Health and Life Sciences Conventry University, Profesor Guy Daly, menambahkan, seleksi CU–SDID Scholarship dilakukan melalui dua proses.
Pertama, yakni memberikan kelonggaran kepada pihak Ditjen SDID Kemenristekdikti untuk menyeleksi kandidat potensial berdasarkan syarat yang ditentukan. Setelah itu, seleksi kedua dilakukan oleh pihak Coventry University sesuai dengan standar akademik kampus. (RO/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved